Cahaya remang yang menerobos sela-sela jendela kayu tua itu terasa begitu menusuk di mata Senjana. Manik matanya yang sayu bergerak lambat, menyapu langit-langit papan yang lapuk, aroma antiseptik yang menyengat, hingga selang bening yang menancap di punggung tangan kirinya. Lingkungan yang sama sekali tak ada di dalam ingatan terakhirnya. Di samping ranjang, Wira berdiri terpaku dengan dada berombak tajam. Harapan yang membumbung tinggi saat melihat kelopak mata itu terbuka kini bercampur dengan getaran cemas yang luar biasa. "Senjana..." bisik Wira sangat pelan. Tangannya terulur lambat, mencoba menggapai jemari dingin yang terlentang di atas selimut kusam. "Kamu... kamu sudah sadar?" Namun, belum sempat ujung jemari Wira menyentuh kulitnya, Senjana menarik tangannya secara refleks. Gerakan itu kasar dan ketus, membuat selang infus bergoyang hebat. Senjana perlahan menggerakkan lehernya yang kaku. Kulit leher sebelah kirinya terasa tertarik, kencang, dan menyengat perih saat
Última actualización : 2026-09-13 Leer más