Jarum emas magis itu akhirnya menembus lapisan kulit dada kanan Wira. Rahangnya mengetat kaku, menahan sengatan rasa sakit pertama yang menusuk hingga ke tatanan daging. Namun, seiring dengan torehan demi torehan yang merobek kulitnya, kening Wira justru berkerut perlahan. Aneh. Sama sekali tidak ada gejolak ghaib atau efek mistis yang membakar dada. Rasanya tak ubahnya seperti tusukan jarum tato biasa yang sama seperti ia membuat tato di lengannya pada tukang tato jalanan dulu. Tidak ada kilatan cahaya, tidak ada hawa panas menyengat, ataupun bisikan aura gelap yang ia bayangkan sebelumnya. Di ambang pintu, Guntur dan Bagas menatap dengan raut ngeri berbaur tegang. Keduanya menahan napas, menanti fenomena mengerikan atau ledakan energi yang mungkin akan menghantam tubuh pria bertato itu. Namun, detik demi detik berlalu, hanya ada suara derit halus jarum yang terus menari kaku di atas dada Wira, memoles tinta merah menjadi pola geometris Bintang Merah. Hingga torehan garis
Última actualización : 2026-09-08 Leer más