Malam makin merambat pekat di dalam laboratorium bawah tanah, membawa serta hawa dingin yang merayap menembus celah-celah beton. Keheningan yang mencekam kembali bertakhta. Semua orang telah tertidur lelap akibat rasa lelah dan kesakitan yang melumpuhkan raga—Guntur meringkuk diam di sudut sel, Bagas bernapas lambat menahan derita dada bekas pembedahannya, dan Rosa tertidur lelah dengan sisa air mata yang mengering di pipinya. Kecuali Wira. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu masih bertelanjang dada, duduk gemetar menatap lantai sel semen dengan pandangan mengerikan. Di dalam kepala dan ingatan kecilnya, bayangan tumpukan mayat anak-anak lain—puluhan jasad tanpa nyawa yang diangkut kaku keluar dari ruang eksperimen—terus berkelebat tanpa henti. Gagal. Mati. Dibuang. Seakan-akan Abah masih belum berpuas diri dan tidak akan pernah berhenti mencoba menciptakan penyihir-penyihir berikutnya—penyihir sempurna yang tidak mengalami kegagalan organ tragis seperti raga Wira, ya
Last Updated : 2026-09-25 Read more