Selena terpaku duduk di balik kaca sekat tebal dengan pandangan mata tajam yang menusuk pada Siska. Di telinganya, gagang telepon masih menempel rapat, dan ia terlihat mencerna informasi dari mantan pelayannya. "Nggak mungkin," desis Selena, lalu tertawa remeh. Suaranya pelan tapi penuh ejekan. "Zea? Punya ASI? Jangan konyol, Siska!" Di seberang kaca, Siska menarik napas pelan. "Nona, dengarkan saya dulu—" "Siska," potong Selena tajam dengan suara mulai meninggi. "Pokoknya berhenti menghibur saya dengan omong kosong kayak gitu. Saya nggak mau dengar lagi. Lebih baik kamu pulang saja sana!" Namun Siska sama sekali tidak beranjak. Ia tetap duduk tenang di kursinya dengan telepon masih menempel di telinga. Perlahan, ia merogoh ponsel dari tas kecil yang ia bawa, lalu jemarinya bergerak lincah mencari sesuatu di galeri fotonya. "Siska, saya bilang kamu pergi sekarang juga atau—!" Ucapan Selena terhenti seketika saat Siska menempelkan layar ponselnya ke kaca sekat, tepat di depa
Huling Na-update : 2026-10-12 Magbasa pa