Bahunya berguncang naik turun, terlihat sangat malang.Sekilas kilasan rasa tidak tega terlintas di hatiku, tetapi dengan cepat langsung tersapu oleh gairah yang bergejolak.Setengah jam.Aku harus menyelesaikan tugas ini dalam waktu setengah jam.Aku melangkah ke hadapannya, lalu berjongkok dan mengangkat wajahnya dengan lembut.Wajahnya sudah dipenuhi bekas air mata dengan tatapan mata yang kosong, tampak seperti boneka yang hancur."Nyonya, jangan nangis lagi." Aku mengusap air matanya perlahan dengan ujung jari, "Sebenarnya, ini nggak sepenuhnya hal buruk."Dia tidak memberikan respons, masih tenggelam dalam kepedihannya sendiri."Coba kamu pikir, kamu bakal dapatkan anak yang kamu inginkan, aku dapatkan uang yang kuinginkan, dan suamimu juga mendapatkan ahli warisnya. Kita semua dapat apa yang kita butuhkan masing-masing, 'kan?"Aku membujuknya perlahan, bagaikan ular beracun yang sedang menghasut Hawa."Ditambah, aku janji, aku bakal bikin kamu lebih bahagia daripada suamimu."Ak
Read more