LOGINNamun, dia sama sekali tidak peduli, melainkan justru membalas ciumanku dengan makin bergairah. Lidahnya yang lembut dengan aktif menyelinap masuk ke dalam mulutku, saling membelit.Kami bagaikan dua ekor binatang yang sedang dilanda berahi, saling melumat satu sama lain dengan liar demi meluapkan gairah yang sudah lama terpendam.Entah berapa lama waktu berlalu, kami akhirnya saling melepaskan tautan dengan napas yang terengah-engah.Bibirnya tampak bengkak kemerahan dengan tatapan mata yang sayu, sementara wajahnya merona padam karena gairah yang memuncak."Ke kamar tidur," ucapnya dengan suara serak.Aku menggendongnya, lalu melangkah lebar menuju kamar tidur.Kali ini, tidak ada Burhan, tidak ada polisi.Hanya ada kami berdua.Aku mengempaskannya ke atas ranjang yang empuk, setelah itu menanggalkan pakaianku satu demi satu, memperlihatkan tubuhku yang tegap dan kekar.Dia pun ikut bekerja sama, melepas selembar pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya.Kami saling berhadapan tanpa s
Tepat saat aku bersiap untuk pergi, sebuah mobil Porsche berwarna merah berhenti di hadapanku.Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan wajah Riana yang anggun sekaligus dingin.Dia memakai sepasang kacamata hitam, membuatku tidak bisa melihat sorot matanya, tapi senyuman tipis yang samar di sudut bibirnya terlihat begitu menusuk mataku."Naik," kata dia datar.Aku tidak bergerak."Kenapa? Mau bikin aku bicarakan urusan kita yang belum selesai malam itu di sini?" Dia melepas kacamata hitamnya, lalu mengangkat alis sambil menatapku.Wajahku seketika berubah, tetapi pada akhirnya aku tetap menarik pintu mobil lalu naik.Mobil melaju kencang sepanjang jalan, hingga akhirnya berhenti di bawah sebuah apartemen mewah dengan pemandangan sungai.Ini adalah rumah baru yang dia beli menggunakan uang Burhan."Turun."Dia membawaku masuk ke dalam apartemen.Ruangannya sangat luas dengan dekorasi yang sangat mewah, jendela kaca yang besar menghadap langsung ke permukaan sungai yang berkilauan.Sekali
"Ah!" Dia menjerit kesakitan.Aku bisa merasakan kalau tubuhnya kembali memberikan respons.Di tempat yang setengah terbuka seperti ini, dan dengan posisi yang begitu menghina ini, dia ternyata ... kembali basah.Perempuan ini, di dalam lubuk hatinya, memang seorang pelacur!Aku tidak lagi memiliki rasa iba sedikit pun padanya.Aku memegang benda besarku yang sudah menahan diri sampai batas maksimal, lalu mengarahkannya ke area belakangnya yang sedikit berkedut karena tegang."Tommy! Kamu berani!" Dia tampaknya menyadari niatku, sehingga langsung berteriak histeris penuh ketakutan."Kamu lihat aja aku berani atau nggak!"Aku menyeringai kejam, lalu menyentakkan pinggangku dengan kuat.Tepat pada saat itu, terdengar suara dentuman keras yang membahana.Pintu kamar tidur ditendang terbuka dengan sangat keras dari luar.Beberapa pria berseragam polisi langsung menerobos masuk ke dalam."Polisi! Jangan bergerak!"Sekujur tubuhku seketika kaku, seluruh gerakanku langsung terhenti.Aku melih
Tepat saat aku sedang asyik bermain dan bersiap memberikan serangan terakhir untuk menghancurkan pertahanannya sekalian, pintu kamar tidur kembali didorong terbuka.Burhan masuk.Dia melirik Riana yang sudah setengah sadar di atas ranjang, lalu beralih menatapku yang sedang berlutut di tepi ranjang dengan wajah berlumuran cairan tubuh istrinya, membuat alisnya seketika mengernyit."Udah setengah jam, belum masuk juga?" Nada bicaranya dipenuhi rasa tidak puas.Aku berdiri dengan agak canggung, lalu menyeka mulutku."Pak Burhan, Nyonya ... agak pemalu.""Nggak guna!" umpat Burhan pelan sambil berjalan ke tepi ranjang.Dia menatap Riana yang pakaiannya sudah berantakan dengan wajah memerah padam di atas ranjang. Kilasan emosi yang rumit terpancar di matanya, ada rasa cemburu, amarah, tetapi yang paling mendominasi adalah sejenis gairah yang sakit.Dia mendadak melayangkan tangan, lalu menampar wajah Riana dengan sangat keras.PLAK!Suara tamparan yang nyaring itu terdengar sangat kentara
Aku hanya merasa seperti menabrak sebuah dinding, membuat pinggangku rasanya hampir patah.Aku membelalakkan mata dan baru menyadari kalau entah sejak kapan, Riana ternyata sudah mengganjal bagian bawah tubuhnya dengan sebuah bantal, menutupi satu-satunya jalan masuk.Aku tertawa saking kesalnya."Nyonya, apa yang kamu lakukan? Mau main permainan seksi?"Dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan sepasang mata yang memerah penuh keras kepala."Oke, aku memang suka tantangan."Aku merenggut bantal itu lalu melemparnya ke samping.Namun, dia langsung merapatkan kedua kakinya dengan sangat ketat, bagaikan cangkang kerang yang tertutup rapat.Aku mencoba beberapa kali, tetapi tetap tidak bisa membukanya.Kaki wanita ini terlihat ramping, tapi kekuatannya luar biasa besar.Aku mulai agak tidak sabar.Waktu tidak banyak lagi.Aku mencengkeram dagunya, memaksanya untuk menatapku."Riana, aku kasih kamu satu kesempatan terakhir. Mau buka sendiri, atau mau kubantu?"Suaraku berubah dingin.Dia
Bahunya berguncang naik turun, terlihat sangat malang.Sekilas kilasan rasa tidak tega terlintas di hatiku, tetapi dengan cepat langsung tersapu oleh gairah yang bergejolak.Setengah jam.Aku harus menyelesaikan tugas ini dalam waktu setengah jam.Aku melangkah ke hadapannya, lalu berjongkok dan mengangkat wajahnya dengan lembut.Wajahnya sudah dipenuhi bekas air mata dengan tatapan mata yang kosong, tampak seperti boneka yang hancur."Nyonya, jangan nangis lagi." Aku mengusap air matanya perlahan dengan ujung jari, "Sebenarnya, ini nggak sepenuhnya hal buruk."Dia tidak memberikan respons, masih tenggelam dalam kepedihannya sendiri."Coba kamu pikir, kamu bakal dapatkan anak yang kamu inginkan, aku dapatkan uang yang kuinginkan, dan suamimu juga mendapatkan ahli warisnya. Kita semua dapat apa yang kita butuhkan masing-masing, 'kan?"Aku membujuknya perlahan, bagaikan ular beracun yang sedang menghasut Hawa."Ditambah, aku janji, aku bakal bikin kamu lebih bahagia daripada suamimu."Ak







