FAZER LOGIN"Lanjut, jangan berhenti. Bikin dia mendesah, aku mau dengar." Di dalam kamar tidur yang sunyi di larut malam, aku merobek baju tidur sutra selembar tipis yang melekat pada tubuh istri Bos. Dia tidak pakai celana dalam, tubuhnya yang setinggi 170 sentimeter dan sangat ideal itu sudah lemas bagaikan genangan air, sementara sepasang kaki jenjangnya yang putih tanpa sadar melingkar ketat di pinggangku, di saat tanganku masih memegang ponsel dengan pelantang suara yang menyala dari si Bos. Rasa malu dan kenikmatan yang luar biasa sudah membuatnya benar-benar hilang kendali, dia meremas seprai tanpa daya sementara mulutnya tanpa sadar memanggil namaku. Tepat pada detik saat aku memegang milikku yang berukuran besar dan sudah menegang kuat hingga terasa sakit, lalu mengarahkannya ke lembah misteriusnya yang becek untuk menerobos masuk ke dalam tubuhnya, pintu kamar tidur tiba-tiba didorong terbuka dari luar ....
Ver maisNamun, dia sama sekali tidak peduli, melainkan justru membalas ciumanku dengan makin bergairah. Lidahnya yang lembut dengan aktif menyelinap masuk ke dalam mulutku, saling membelit.Kami bagaikan dua ekor binatang yang sedang dilanda berahi, saling melumat satu sama lain dengan liar demi meluapkan gairah yang sudah lama terpendam.Entah berapa lama waktu berlalu, kami akhirnya saling melepaskan tautan dengan napas yang terengah-engah.Bibirnya tampak bengkak kemerahan dengan tatapan mata yang sayu, sementara wajahnya merona padam karena gairah yang memuncak."Ke kamar tidur," ucapnya dengan suara serak.Aku menggendongnya, lalu melangkah lebar menuju kamar tidur.Kali ini, tidak ada Burhan, tidak ada polisi.Hanya ada kami berdua.Aku mengempaskannya ke atas ranjang yang empuk, setelah itu menanggalkan pakaianku satu demi satu, memperlihatkan tubuhku yang tegap dan kekar.Dia pun ikut bekerja sama, melepas selembar pakaian terakhir yang menutupi tubuhnya.Kami saling berhadapan tanpa s
Tepat saat aku bersiap untuk pergi, sebuah mobil Porsche berwarna merah berhenti di hadapanku.Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan wajah Riana yang anggun sekaligus dingin.Dia memakai sepasang kacamata hitam, membuatku tidak bisa melihat sorot matanya, tapi senyuman tipis yang samar di sudut bibirnya terlihat begitu menusuk mataku."Naik," kata dia datar.Aku tidak bergerak."Kenapa? Mau bikin aku bicarakan urusan kita yang belum selesai malam itu di sini?" Dia melepas kacamata hitamnya, lalu mengangkat alis sambil menatapku.Wajahku seketika berubah, tetapi pada akhirnya aku tetap menarik pintu mobil lalu naik.Mobil melaju kencang sepanjang jalan, hingga akhirnya berhenti di bawah sebuah apartemen mewah dengan pemandangan sungai.Ini adalah rumah baru yang dia beli menggunakan uang Burhan."Turun."Dia membawaku masuk ke dalam apartemen.Ruangannya sangat luas dengan dekorasi yang sangat mewah, jendela kaca yang besar menghadap langsung ke permukaan sungai yang berkilauan.Sekali
"Ah!" Dia menjerit kesakitan.Aku bisa merasakan kalau tubuhnya kembali memberikan respons.Di tempat yang setengah terbuka seperti ini, dan dengan posisi yang begitu menghina ini, dia ternyata ... kembali basah.Perempuan ini, di dalam lubuk hatinya, memang seorang pelacur!Aku tidak lagi memiliki rasa iba sedikit pun padanya.Aku memegang benda besarku yang sudah menahan diri sampai batas maksimal, lalu mengarahkannya ke area belakangnya yang sedikit berkedut karena tegang."Tommy! Kamu berani!" Dia tampaknya menyadari niatku, sehingga langsung berteriak histeris penuh ketakutan."Kamu lihat aja aku berani atau nggak!"Aku menyeringai kejam, lalu menyentakkan pinggangku dengan kuat.Tepat pada saat itu, terdengar suara dentuman keras yang membahana.Pintu kamar tidur ditendang terbuka dengan sangat keras dari luar.Beberapa pria berseragam polisi langsung menerobos masuk ke dalam."Polisi! Jangan bergerak!"Sekujur tubuhku seketika kaku, seluruh gerakanku langsung terhenti.Aku melih
Tepat saat aku sedang asyik bermain dan bersiap memberikan serangan terakhir untuk menghancurkan pertahanannya sekalian, pintu kamar tidur kembali didorong terbuka.Burhan masuk.Dia melirik Riana yang sudah setengah sadar di atas ranjang, lalu beralih menatapku yang sedang berlutut di tepi ranjang dengan wajah berlumuran cairan tubuh istrinya, membuat alisnya seketika mengernyit."Udah setengah jam, belum masuk juga?" Nada bicaranya dipenuhi rasa tidak puas.Aku berdiri dengan agak canggung, lalu menyeka mulutku."Pak Burhan, Nyonya ... agak pemalu.""Nggak guna!" umpat Burhan pelan sambil berjalan ke tepi ranjang.Dia menatap Riana yang pakaiannya sudah berantakan dengan wajah memerah padam di atas ranjang. Kilasan emosi yang rumit terpancar di matanya, ada rasa cemburu, amarah, tetapi yang paling mendominasi adalah sejenis gairah yang sakit.Dia mendadak melayangkan tangan, lalu menampar wajah Riana dengan sangat keras.PLAK!Suara tamparan yang nyaring itu terdengar sangat kentara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.