Idris menunggu jawabku dengan tatapan masam. Bisa-bisanya ia percaya ada becak di kota ini. “Di tengah jalan ada kuda poni yang menyeretku. Lagipula mana ada becak di Batam!” sahutku. Namun, senyum isengku tidak surut. “Lekas, Dias! Bukan saatnya bersantai!” Idris yang abai dan terus berekspresi datar berlalu sambil menyeruku. Kakiku mengikuti dengan berjalan lebar dan panjang. Bukan buru-buru, sebab sol sepatu ini cukup tinggi. Namun, Idris melambatkan langkah hingga kami pun sejajar. “Kamu buang rambut?” Idris bertanya tanpa menolehku. “Bukan dibuang, Pak. Hanya dipotong model baru. Saya cantik?” usikku lagi tanpa malu. Rasanya ia seperti teman dekat yang lama tak kulihat. Meskipun sikapnya kaku dan datar, tapi menenangkan dan nyaman. Atau sebab dalam struktur keluarga, Idris juga sepupuku? Entahlah! “Lumayan lebih cantik. Tapi bagus lagi tidak usah terlalu sering senyum seperti itu. Akan hilang wibawamu,” ucap Idris serius. Ah, ia memang panda di kutub. Mempesona tet
Last Updated : 2026-07-09 Read more