Aku yang semula rebahan di sofa teras, sudah duduk tegak dengan menurunkan kaki. Merasa jika terus merebah, sikapku akan terlihat tidak sopan di depan Indria, kakak ipar perempuanku yang gagah. Ia yang tadi terlihat menyeramkan, kini justru menatap iba. Duduk perlahan di kursi seberangku. “Dias, mana Idris?” tanyanya sangat lembut. Aku jadi bingung, mungkin terlihat gugup di matanya. “Emm … kayaknya masih ada kepentingan dengan rekannya, Kak,” jawabku yang merasa ragu sendiri. Pasti lagi-lagi juga tampak sangat bohong di matanya. “Lalu, siapa lelaki di sana?” Indria menunjuk Iskandar yang tadi bermain ponsel, kini lunglai tertidur. Otakku pun sejenak berputar. “Driver temannya, Kak. Jadi, aku diantar olehnya,” ucapku tenang. Aku menjelaskan komplet daripada Kak Indria repot tanya lagi. Sebab pandangannya lekat pada kendaraan pribadi Idris di bagasi. “Terus membiarkanmu pulang sendiri dan sangat lama nunggu di luaran yang banyak angin seperti ini?” Indria tersenyum s
Last Updated : 2026-07-24 Read more