Idris yang terlihat sibuk di mejanya, entah apa yang dicari, serta merta menoleh sekilas pada Leonard. Lalu menatap tajam padaku seperti biasanya. “Ada apa, Dias? Jika ada masalah lagi, cepat katakan. Kak Indria dan notaris keluargaku sedang menunggu. Aku harus segera datang denganmu. Jangan ulur waktu…!” ucapnya dengan menatapku tajam. Meski rasanya tersentil dan Idris selalu berpikir jika aku pembawa masalah, tapi harus segera aku katakan. Jika lebih menunda, lelaki itu bisa jadi akan lebih marah. “Iya, memang ada masalah. Tetapi, jika Pak Idris tidak masalah, tidak akan jadi masalah. Jadi, saya mohon tolonglah …,” ucapku memberanikan diri dengan setengah merayu. “Jangan berbelit, Dias. Ada apa? Apa ini masalah penyakitmu lagi? Katakan dengan jelas!” sambar Idris cukup keras. Namun, hardiknya tidak membuat hati ini menguncup, justru membuat nyali ini lebih tegar. Rasa cemas dan takut pun baru saja kuhempas. “Pagi tadi, Tuan Naoto ingin saya yang selalu melayan di kamarn
Last Updated : 2026-07-15 Read more