“Ah, mereka tidak bercinta mungkin karena lelah ... dari tadi hanya percakapan…” Fenina berbisik pelan sambil mencondongkan telinga lebih dekat ke alat penyasap suara yang terhubung ke setiap sudut apartemen sebelah. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, tangannya meremas ujung baju dengan gelisah yang semakin menyesakkan dada. Sejak duduk terpaku di depan alat penyadap ini, ia sudah mempersiapkan diri—menanti suara desahan lembut, erangan penuh gairah, atau bisikan cinta yang biasa memenuhi telinganya setiap malam. Namun kali ini, yang terdengar bukanlah suara keintiman yang ia dambakan, melainkan percakapan yang begitu tenang, hangat, dan sarat akan perencanaan masa depan yang tampak begitu indah dan kokoh.“Nanti kalau rumah sudah siap huni, kita bisa menanam pohon mangga dan rambutan di halaman depan ya, Mas. Biar anak cucu kita nanti bisa memetik buahnya sendiri, sambil bermain berlari-larian di bawah teduhnya daun yang rimbun,” ujar suara Lusty terdengar begitu lembut, penu
Last Updated : 2026-07-25 Read more