Di unit rumahnya, Maya segera masuk dan membaringkan pria itu di atas sofa ruang tamu. Maya kembali bergerak panik, berlari mencari kotak obat di laci dapur dan mengambil air hangat di baskom. Napasnya masih tersengal, wajahnya pucat penuh kecemasan, dia membasuh wajah Ethan yang penuh darah yang mulai mengering dengan air hangat, air mata si wajahnya berjatuhan, semua tetesan darah itu karena demi mempertahankan dia, dari kekejaman para komplotan mafia tadi. "Ya tuhan aku harus beli alat medis dan obat, tapi ini sudah hampir jam satu malam" Maya mengigit bibir cemas setelah mengobati luka di dahi Ethan dengan ala kadarnya, tapi dia tak bisa begini, luka sobek itu harus di jahit, dan pria itu harus dapat transfusi darah. Ada rasa takut jika pria dingin yang kemarin mengomelinya itu di tangkap polisi. Benih-benih perasaan yang belum Maya pahami mulai tumbuh dan berakar kuat di dalam hatinya, malam ini Ethan telah melindunginya, dan sekarang, gilirannya untuk melindungi pria itu. "
Last Updated : 2026-07-31 Read more