LOGINHanya beberapa jam lagi Maya akan melangkah ke pesta pertunangan, menyongsong masa depan yang sudah direncanakan orang tuanya, sampai sosok bertopeng menyeretnya ke dalam kegelapan. Penculiknya adalah Ethan Eko Spencer, nama yang membuat seluruh dunia bawah tanah Jakarta gemetar, pria yang dibesarkan untuk tak mengenal belas kasihan. Di tempat persembunyian yang sunyi, Maya terkurung di dekat pria yang seharusnya paling dia benci. dia bersiap menghadapi yang terburuk, namun perlahan Maya menyadari ada sisi lain di balik tatapan dingin Ethan, sebuah luka tersembunyi, dan kelembutan yang dia coba sembunyikan mati-matian. Antara rasa takut dan kebencian, benih-benih perasaan tak terduga mulai tumbuh di hati Maya. Namun rahasia gelap di balik penculikan ini perlahan terkuak, dan Maya sadar dia bukan sekadar sandera biasa. Ketika kesetiaan Ethan diuji, Maya harus memilih, apakah dia akan lari dari pria yang menculiknya, atau justru menjadi satu-satunya alasan yang membuatnya berani melawan dunia? Di antara jerat takdir, siapa yang sebenarnya telah terperangkap?
View MoreMalam ini suasana sangat ramai dan penuh kegembiraan di rumah keluarga Menteri Aditya Darmawan telah dihias dengan indah untuk menyambut hari pertunangan putri satu-satunya, Maya, berdiri di depan cermin, mengenakan gaun berwarna pink soft yang elegan. Paras cantiknya terlihat gugup, senyum tipis tetap terukir manis dibibirnya.
Maya Miranti Darmawan adalah seorang dokter bedah umum yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di kota. Dia dikenal sebagai perempuan yang lembut, cerdas, dan memiliki hati yang polos. Pertunangannya dengan Dimas Bastian, seorang pengacara yang sukses dan terhormat, dianggap sebagai pasangan yang sangat serasi oleh banyak orang. "Tenang saja, Nak,” kata Bu Larasati sambil merapikan rambut Maya yang sudah di dandani oleh MUA ternama. “Hari ini adalah hari bahagiamu. Semoga hidupmu ke depan selalu dipenuhi kebahagiaan bersama Dimas.” "Iya bunda terima kasih restunya" Maya mengangguk dan menarik napas panjang. Meskipun dia tidak mengenal Dimas terlalu lama dan ada campur tangan perjodohan dari ayahnya, namun dia percaya pada keputusan orang tuanya Setidaknya begitulah yang dia pikirkan saat itu. Dia tidak menyadari bahwa di balik kebahagiaan yang terlihat sempurna ini, sudah ada rencana gelap yang sedang berjalan, menunggu waktu tepat untuk menghancurkan mimpinya. Saat malam para tamu mulai berdatangan, Ethan sudah berada di tempat yang telah dia rencanakan. Dia mengamati setiap gerakan targetnya, mengingat setiap detail tugasnya. Semua berjalan lancar hingga detik ini. Lampu‑lampu taman pesta berpendar lembut di sepanjang jalan setapak menuju halaman belakang rumah mewah itu. Di sudut gelap, di balik rimbun pohon, si penculik berdiri seperti bayangan. Jaket kulit hitamnya menyatu dengan gelapnya malam, matanya mengawasi gerak‑gerik penjaga kebun yang baru saja dia dekati sambil menyelipkan segepok uang tebal ke saku seragam lelaki paruh baya itu. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya gugup. “Mudah saja,” ucapnya pelan, suaranya datar tanpa emosi. “Datang ke depan dokter Maya, bilang ada Nenek Hanum yang mencarinya di taman belakang. Katakan nenek itu ingin berterima kasih, karena jasa dokter itu” Tukang kebun menelan ludah, melirik kiri‑kanan takut, namun uang di tangannya terasa terlalu berat untuk ditolak. “Ba… baik Tuan, saya mengerti, tapi jika non Maya tidak mau saya tidak bisa memaksa,” Tak lama kemudian penjaga itu mendekati teras tempat Maya berdiri di antara para tamunya. Gaun sutra soft pink yang dikenakannya tampak berkilau indah di bawah bias lampu gantung, berpadu indah dengan tiara kecil yang menghias rambut panjangnya. Wajah cantiknya agak cemas, sesekali dia melirik ke arah jam tangan, menanti kehadiran Dimas Bastian yang belum datang. "Non Maya…” sapa si tukang kebun dengan gestur ragu. “Di area taman belakang, ada Nenek Hanum yang mencari Non. Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung, Beliau juga membawa tanda mata.” "Ya ampun nenek Hanum di sini, benarkah, Kek?" Maya menatapnya tak percaya, sementara si tukang kebun hanya bisa mengangguk gugup. Seketika senyum manis Maya merekah lebar, mengikis rasa ketegangan yang sempat mendera pikirannya. Dia ingat betul dengan sosok Nenek itu, yang hidup sebatang kara di sebuah petak kontrakan sempit di pinggiran ibukota karena tidak memiliki biaya untuk berobat. Maya ingat betul bagaimana dia menerobos derasnya hujan demi menyelamatkan nyawa nenek tua itu hingga pulih total. "Oh Tuhan, Nenek Hanum sampai sengaja menyempatkan datang di acaraku,” ucap Maya dengan nada antusias. “Terima kasih banyak sudah memberi tahu, Kek. Aku akan menemui beliau sebentar saja.” Maya bergegas pamit dengan alasan hendak ke dalam sebentar. Langkah kakinya menyusuri lorong menuju halaman belakang mansion. Di luar, rintik gerimis mulai turun membasahi permukaan tanah, membuat udara menjadi semakin dingin. Namun, hati Maya terasa hangat membayangkan wajah Nenek Hanum, tanpa pernah dia duga justru ini menjadi pintu gerbang menuju petaka. Saat Maya baru saja sampai di halaman ini, tak ada nenek Hanum di sini. Hanya gelap yang pekat dan bau tanah basah karena angin agak kencang dan gerimis mulai turun. "Lho dimana nenek? nenek!" bingung Maya memanggil dan melihat sekelilingnya. Belum sempat Maya berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di tubuhnya, dalam hitungan detik secepat kilat mulut Maya langsung disumpal kain tebal agar tak bisa berteriak, napasnya tertahan kencang, karena dia terkejut sekali. "Jangan berteriak,” bisikan rendah kejam terdengar di telinganya. Maya memberontak keras, kakinya menendang udara, matanya melotot penuh ngeri melirik lelaki berjaket kulit hitam itu dengan masker dan topi hitam, itu Ethan. Hanya dalam hitungan menit, dia berhasil mendekati Maya yang tengah kebingungan Sebelum gadis itu sempat berteriak keras, kain yang tadi sudah dibasahi zat penenang Ethan bungkam pada hidung dan mulutnya. Maya meronta sebentar, lalu kesadarannya menghilang saat hujan makin deras. Kenapa ada yang membekap mulutnya? apa dia akan di bunuh atau di culik?Di Executive Suite Room Hotel Grand Palace. Ethan baru saja melepas jas tuksedonya dan sedang membantu Mayra melepaskan jepit peniti di bagian belakang gaunnya juga resletingnya. Maya sedang berganti piyama tidur dan akan merebah di ranjang karena lelah. Suasana malam pengantin yang seharusnya penuh kehangatan dan keheningan romantis mendadak hancur berantakan saat ponsel Ethan meraung nyaring di atas meja rias. Panggilan dari Aiden Ethan menggeser layar ponselnya. "Ya, Halo Den? Ada apa malam-malam—" "Ethan! KAMU CEPAT KE RUMAH SAKIT CITRA MEDIKA! Elis kritis!" suara Yerin malah yang terdengar histeris berbaur tangisan di seberang telepon. "Bang Aiden nemuin Elis nyayat nadinya di kamar mandi dia kehilangan banyak darah!" DEG! Ponsel di genggaman Ethan hampir saja terlepas. Iris mata sehitam jurang miliknya membelalak kaget. Rahang tegasnya mengeras rapat, sementara aura dingin seketika menyelimuti seluruh tubuh tegapnya. Maya yang berdiri di depannya dan akan melepas sangg
Suasana di salah satu lounge eksklusif Hotel Grand Palace tampak riuh penuh kehangatan. Di atas meja bundar bermaterial marmer, bertumpuk lusinan katalog dekorasi ballroom, contoh kain, daftar menu catering, hingga sampel undangan beraksen tinta emas. Bu Larasati tampak begitu bersemangat membolak-balik berkas penawaran dari pihak manajemen hotel. "Laras, untuk menu utama, aku mau pastikan ada Wagyu Tenderloin dan Salmon Wellington. Tamu-tamu kehormatan kita harus disajikan yang terbaik," ujar pak Aditya mantap seraya kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung. "Setuju, ayah," sahut Bu Larasati seraya tersenyum gembira. "Untuk hidangan penutupnya, Laras sudah minta chef utama Grand Palace menyiapkan dessert stall khusus untuk Maya dan Ethan—ada panna cotta dan es krim buah segar." Maya yang duduk di samping Ethan hanya bisa tersenyum simpul, sesekali menyeruput jus jeruk segarnya. Tangan kirinya digenggam erat oleh Ethan di bawah meja. Pria itu terus mengusap punggung tangan
Pipi Ethan mendadak merona tipis mendengar pernyataan itu. Pria tegap yang ditakuti seluruh jaringan mafia itu kini tampak salah tingkah hanya karena ucapan cinta dari Maya. "Katakan lagi aku mau dengar lagi sayang" bisik Ethan seraya merengkuh pinggang Maya, menempelkan kening mereka berdua. "Gak mau, ah. Nanti kamu makin manja dan besar kepala," goda Maya tertawa kecil. "Biarin. Sama kamu bebas, boleh kan manja." sahut Ethan santai, lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Maya, menyesap rasa manis yang mengusir seluruh sisa kegelapan dari masa lalunya. Di ambang pintu ruang keluarga, Papi Aditya yang didorong oleh Pak Seno ajudannya dan. Bu Larasati yang akan masuk ke pintu ruangan tamu ini tersenyum lega menyaksikan pemandangan hangat itu. Mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam tapi sudah dapat pemandangan indah itu, bik Wina yang berjalan di belakang menutup bibirnya dan menahan tawa, melihat dua majikannya yang tengah berciuman itu. "Ehemm!" Pak Aditya sengaja
Lampu kilat kamera wartawan masih menyambar-nyambar di halaman luar Gedung Kejaksaan Agung. Di dalam ruang pemeriksaan yang dingin dan beraroma pemutih, Dimas duduk dengan tangan terborgol di atas meja besi. Kemeja mewahnya kini lecek, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah sembab akibat kombinasi rasa panik, marah, dan keputusasaan. Seseorang mengetuk pintu ruang tahanan sementara itu. "Tersangka Dimas Bastian, Anda memiliki waktu sepuluh menit dengan tamu khusus," ujar petugas kejaksaan seraya membukakan pintu. Dimas mendongak gusar, berharap itu adalah pengacara mahal yang disewa papinya sudah datang. Namun, begitu sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk, napas Dimas mendadak tertahan di tenggorokan. _E-Ethan! Pria tampan itu melangkah masuk dengan santai, kedua tangannya terbenam anggun di saku celana bahan hitam. Tidak ada guratan amarah di wajah tampannya, yang ada hanyalah sebuah senyum dingin, tipis, dan penuh kemenangan mutlak yan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews