LOGINmenjelang siang saat Maya terus merutuki nasibnya kenapa bisa terkurung di tempat ini ketika dia hampir saja meraih hari bahagia nya, tiba-tiba
Brak! Pintu besi kembali dihempaskan terbuka. Ethan masuk dengan wajah dingin, dia melemparkan sebuah paper bag warna hitam ke hadapan Maya yang masih duduk terikat di kursi. "Nih baju buat kamu!" Maya tersentak, menatap kantong belanjaan itu dengan kening berkerut sebelum menatap Ethan dengan pandangan penuh kebencian. "Apa ini?" tanyanya dengan meraih tas paperbag yang terlihat baru. "Jangan pikir aku perhatian padamu!" sergah Ethan cepat sebelum Maya sempat membuka mulut lagi. Suaranya ketus, berusaha keras menutupi rasa canggungnya. Dia melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Maya lalu mendorong dahi gadis itu kasar. "Aku lepaskan ini tapi jangan coba berani kabur, atau nyawa kamu habis." ancamnya dingin, Maya melotot namun masih ketakutan, dia makin benci pada penculiknya yang selalu bicara kasar dan penuh ancaman. "Aku hanya tidak mau bayaranku dipotong atau ditarik oleh klien karena sanderanya mati masuk angin atau sakit. Cepat pakai itu! Penampilanmu sekarang jelek sekali, persis seperti anak itik yang tercebur ke got." Mendengar hinaan itu, harga diri Maya sebagai putri menteri langsung tersengat. "Kau!" Maya mendesis sewot, berniat melemparkan kembali paperbag besar itu ke wajah Ethan. "Mulutmu itu tak bisa ya ngomong yang baik sedikit?" Sergah Maya memalingkan wajah muak. "Terserah anggapan mu, kalau tak mau baju itu buang aja kelar urusan!" Maya hampir mengamuk lagi. Namun, karena gaunnya yang basah dan tak di ganti sejak semalaman membuat akal sehatnya menang. "Heuh dasar mulut tajam, pantas saja dia jadi penculik?" sambil mengomel dia membuka tas itu, mau marah juga dia takut, kondisinya saat ini sedang di bawah. apalagi dia memang sangat membutuhkan pakaian ganti. Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa amarah, Maya membuka kantong itu. Dia menarik dua kaus katun, juga dua celana kulot berwarna hitam dan coklat di dalamnya, tapi Maya sedikit tertegun melihat isi tas itu. Secara umum, ukuran pakaian ini tampak sangat pas di tubuhnya. Ada rasa lega yang menyelinap, tapi itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum Maya menyadari ada satu hal penting yang hilang dan tidak ada.. "Lho hanya ini isi tasnya?" Dia mengaduk-aduk bagian dasar paper bag, memastikan tidak salah. Kosong. Tidak ada apa-apa lagi di sana. "Hei! Tunggu penculik!" teriak Maya saat melihat Ethan sudah akan keluar lagi dari kamar sempit itu dan akan mengunci pintunya. Ethan menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh malas tanpa berbalik sepenuhnya. "Apa lagi sih?" "Kamu... euh kamu hanya membelikan baju dan celana panjang saja untukku?!" tanya Maya dengan wajah yang memerah antara kesal dan malu. "Lalu kamu mau aku membelikanmu gaun pesta lagi? Sadar posisimu, kamu itu tawanan di sini, bukan mau menghadiri pesta resepsi," sahut Ethan sarkastik. "Bukan itu, ah dasar penculik bodoh!" sentak Maya, melupakan semua tata krama yang dia pelajari sejak kecil akibat terlalu frustrasi dengan ketidakpekaan penculiknya, yang benar saja dia belum ganti pakaian dalam sejak kemarin dan ini tak dibelikan. "Ini tidak ada pakaian dalamnya! Bagaimana bisa aku mengganti pakaian tanpa mengganti pakaian dalam yang bersih?! Aku tidak mau pakai dalaman kotor selama berhari-hari! Bisa gatal-gatal semua tubuhku!" Ethan membeku di tempat. Otaknya yang biasa memikirkan taktik pembunuhan, rute pelarian, dan kaliber peluru, blank seketika. "Pakai saja yang ada," jawab Ethan pendek, suaranya singkat kaku. dia buru-buru menutup pintu itu dengan cepat, menguncinya dari luar. "Apa katamu?!" Maya melotot horor, nyaris melemparkan tas itu pada kepala si penculik. "Hei jangan pergi bodoh!" Ethan berdiri bersandar pada dinding di luar kamar. Namun, dinding pembatas itu tidak cukup tebal untuk meredam suara omelan Maya yang menggema dari dalam. "Penculik sialan! Bodoh ahh malah pergi? dasar tidak punya otak! Memangnya dia pikir tubuh wanita sama seperti tubuhnya itu?! Dasar tidak peka, bodoh! Penculik aneh!" Omelan dan makian Maya terus mengalir, menyebut-nyebut kebersihan, hingga sumpah serapah untuk sang penculik. Di luar, Ethan hanya bisa mendengarkan dengan kedua tangan mengepal kesal. Perlahan, rasa panas dan kesal menjalar hingga ke seluruh wajahnya. Ekspresi Wajah dingin sang penculik pagi itu kini merah padam, murni karena rasa dongkol yang luar biasa. Ethan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Beli pakaian dalam untuk perempuan? Yang benar saja! "Aish dasar sandera bawel!" keluhnya frustasi menghadapi perempuan satu itu yang berani protes dan memukul telak mentalnya. Maya masih mengomel sendirian sambil berganti pakaian gaun kotornya dengan kaos bersih, dia melepaskan dalamannya, tak mungkin dia pakai lagi, daripada tubuhnya gatal semua mendingan dia tak pakai dalaman, salahkan saja si penculik bodoh itu yang main bawa ke tempat ini. dia luar Ethan juga masih dongkol luar biasa. Selama kariernya di dunia bawah tanah, dia telah menghadapi berbagai macam misi berbahaya, mulai dari baku hantam dengan mafia, membunuh tanpa belas kasihan, hingga menghindari kejaran aparat. Tapi tidak pernah sekalipun dia membayangkan harus membelikan pakaian dalam untuk sanderanya. "Kenapa aku malah seperti jadi suami yang sedang diomeli istrinya daripada seorang penculik menyandera korbannya? Sial!" Umpat Ethan sambil meninju udara.Di Executive Suite Room Hotel Grand Palace. Ethan baru saja melepas jas tuksedonya dan sedang membantu Mayra melepaskan jepit peniti di bagian belakang gaunnya juga resletingnya. Maya sedang berganti piyama tidur dan akan merebah di ranjang karena lelah. Suasana malam pengantin yang seharusnya penuh kehangatan dan keheningan romantis mendadak hancur berantakan saat ponsel Ethan meraung nyaring di atas meja rias. Panggilan dari Aiden Ethan menggeser layar ponselnya. "Ya, Halo Den? Ada apa malam-malam—" "Ethan! KAMU CEPAT KE RUMAH SAKIT CITRA MEDIKA! Elis kritis!" suara Yerin malah yang terdengar histeris berbaur tangisan di seberang telepon. "Bang Aiden nemuin Elis nyayat nadinya di kamar mandi dia kehilangan banyak darah!" DEG! Ponsel di genggaman Ethan hampir saja terlepas. Iris mata sehitam jurang miliknya membelalak kaget. Rahang tegasnya mengeras rapat, sementara aura dingin seketika menyelimuti seluruh tubuh tegapnya. Maya yang berdiri di depannya dan akan melepas sangg
Suasana di salah satu lounge eksklusif Hotel Grand Palace tampak riuh penuh kehangatan. Di atas meja bundar bermaterial marmer, bertumpuk lusinan katalog dekorasi ballroom, contoh kain, daftar menu catering, hingga sampel undangan beraksen tinta emas. Bu Larasati tampak begitu bersemangat membolak-balik berkas penawaran dari pihak manajemen hotel. "Laras, untuk menu utama, aku mau pastikan ada Wagyu Tenderloin dan Salmon Wellington. Tamu-tamu kehormatan kita harus disajikan yang terbaik," ujar pak Aditya mantap seraya kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung. "Setuju, ayah," sahut Bu Larasati seraya tersenyum gembira. "Untuk hidangan penutupnya, Laras sudah minta chef utama Grand Palace menyiapkan dessert stall khusus untuk Maya dan Ethan—ada panna cotta dan es krim buah segar." Maya yang duduk di samping Ethan hanya bisa tersenyum simpul, sesekali menyeruput jus jeruk segarnya. Tangan kirinya digenggam erat oleh Ethan di bawah meja. Pria itu terus mengusap punggung tangan
Pipi Ethan mendadak merona tipis mendengar pernyataan itu. Pria tegap yang ditakuti seluruh jaringan mafia itu kini tampak salah tingkah hanya karena ucapan cinta dari Maya. "Katakan lagi aku mau dengar lagi sayang" bisik Ethan seraya merengkuh pinggang Maya, menempelkan kening mereka berdua. "Gak mau, ah. Nanti kamu makin manja dan besar kepala," goda Maya tertawa kecil. "Biarin. Sama kamu bebas, boleh kan manja." sahut Ethan santai, lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Maya, menyesap rasa manis yang mengusir seluruh sisa kegelapan dari masa lalunya. Di ambang pintu ruang keluarga, Papi Aditya yang didorong oleh Pak Seno ajudannya dan. Bu Larasati yang akan masuk ke pintu ruangan tamu ini tersenyum lega menyaksikan pemandangan hangat itu. Mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam tapi sudah dapat pemandangan indah itu, bik Wina yang berjalan di belakang menutup bibirnya dan menahan tawa, melihat dua majikannya yang tengah berciuman itu. "Ehemm!" Pak Aditya sengaja
Lampu kilat kamera wartawan masih menyambar-nyambar di halaman luar Gedung Kejaksaan Agung. Di dalam ruang pemeriksaan yang dingin dan beraroma pemutih, Dimas duduk dengan tangan terborgol di atas meja besi. Kemeja mewahnya kini lecek, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah sembab akibat kombinasi rasa panik, marah, dan keputusasaan. Seseorang mengetuk pintu ruang tahanan sementara itu. "Tersangka Dimas Bastian, Anda memiliki waktu sepuluh menit dengan tamu khusus," ujar petugas kejaksaan seraya membukakan pintu. Dimas mendongak gusar, berharap itu adalah pengacara mahal yang disewa papinya sudah datang. Namun, begitu sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk, napas Dimas mendadak tertahan di tenggorokan. _E-Ethan! Pria tampan itu melangkah masuk dengan santai, kedua tangannya terbenam anggun di saku celana bahan hitam. Tidak ada guratan amarah di wajah tampannya, yang ada hanyalah sebuah senyum dingin, tipis, dan penuh kemenangan mutlak yan
Suasana di kediaman mewah keluarga Pak Fahmi sore itu mendadak tegang luar biasa. Di dalam ruang kerja, Dimas mengemas berkas-berkas penting dan beberapa paspor ke dalam tas hitam dengan tangan bergetar hebat. Peluh dingin membasahi keningnya. Berita mengenai penyitaan aset dan penetapan status tersangka dari KPK serta Kejaksaan Agung sudah menyebar cepat di media massa. "Sialan! Bagaimana bisa dokumen transaksi rekening offshore itu jatuh ke tangan penyidik?!" umpat Dimas histeris seraya menutup resleting tasnya. "Dimas! Kamu mau ke mana, Nak?!" Pak Fahmi sang ayah masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat pasi, kepalanya penuh kepanikan. "Dimas harus kabur sekarang, Papi! Lewat jalur rahasia, jet pribadi di bandara privat sudah menunggu sebelum petugas datang!" teriak Dimas panik. Namun, belum sempat Dimas melangkah keluar pintu, suara sirine mobil dinas kepolisian, kejaksaan dan KPK serta derap langkah sepatu militer bergema dari arah halaman depan. Brak!! Pintu utama rumah
Cahaya matahari pagi di pantai perlahan menerobos masuk melalui celah gorden kamar mungil ini, memancarkan pendar keemasan di atas ranjang king yang isinya sudah berantakan, kamar yang kemarin rapi, pagi ini seperti baru di hantam badai. Maya perlahan membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang indranya rasakan adalah kehangatan luar biasa yang mendekap erat tubuhnya, disusul rasa ngilu samar di beberapa bagian tubuhnya terutama di kewanitaannya yang masih sangat perih, dan tubuhnya yang remuk seperti habis olahraga berat Mulai pagi ini dia bukan gadis perawan lagi, dengan penuh kesadaran dia memberikan tubuhnya pada pria yang masih terlelap dan tengah memeluknya posesif semalaman, pria itu masih tidur nyenyak dengan lengan kekarnya yang memeluk pinggangnya. Wajah cantiknya seketika merona, seperti sebuah pengingat nyata atas badai gairah yang membakar mereka semalaman di kamar ini, seakan kamar ini bisa menjadi saksi betapa panas pertempuran mereka semalam dan itu terjadi ber







