Home / Romansa / Jerat Cinta Sang Penculik / 4. Mengaku pacar, daripada repot!

Share

4. Mengaku pacar, daripada repot!

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-22 17:17:22

Lima hari berada di tempat penyekapan tidak serta-merta tidak membuat nyali Maya ciut. Sebaliknya, sifat bawel dan keras kepalanya justru semakin menjadi-jadi. Dia protes dan mengomeli apapun yang tidak sesuai dengan keinginannya, sepertinya situasi jadi terbalik, penculiknya yang terpaksa harus menuruti keinginannya.

Setelah perdebatan panjang yang menguras urat saraf, Maya akhirnya bisa mandi karena dia terus-terusan mengeluh gatal dan merasa tubuhnya sudah kotor.

Ethan sendiri bisa sedikit bernapas lega.. Urusan pakaian dalam wanita yang membuatnya frustrasi setengah mati kemarin akhirnya beres, berkat bantuan ibu Ningsih, si pemilik kontrakan yang dia minta tolong karena alasan ibu angkatnya lupa bawa pakaian ganti, saat bertandang ke kontrakannya kemarin, dengan seribu satu alasan palsu, syukurlah Bu Ningsih percaya saja dan membelikan apa saja pesanan Ethan ke pasar.

Namun, pagi ini kebawelan Maya kambuh lagi. Begitu Maya keluar dari kamar mandi dengan pakaian kaus krem dan kulot hitam yang bersih, gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya saat melihat lagi wajah penculiknya, masih kesal dan dongkol tinggl serumah dengan pria menyebalkan seperti es batu.

"Aku lapar banget, sana belikan aku makan," cetus Maya, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Jika aku belikan makanan, bisa saja kamu buang lagi nanti?" sahut Ethan.

"Yak, aku serius lapar banget, kamu ingin aku mati hah? kamu memang berniat membunuh aku ya? heuh mendingan lepasin aku saja biar aku bisa pulang!!"

"Diam! mulutmu itu tak bisa yang sehari saja diam!?" Maya menggigit bibir kesal, mau menjawab dengan amukan lagi dia takut tiba-tiba pistol akan di arahkan pada kepalanya.

"Kalau aku mau membunuhmu, aku tidak perlu repot-repot membelikan pakaian dan semua kebutuhan kamu kemarin!"

Maya mendengus kesal, duduk dengan serampangan di kursi kecil, rumah ini sempit dan jelek hanya ada dua kamar dan ruangan tamu yang menyatu dengan dapur

"Belikan sana cepat, apa kamu tak punya uang belikan aku makanan!!?" Ethan hampir menjawab lagi, namun kalah telak dengan tatapan horor gadis itu, sumpah perutnya sudah keroncongan tidak bisa diajak bekerja sama, dia janji tidak akan membuang makanan apapun lagi, meskipun itu cuma nasi.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan keras di pintu depan seketika memutus atmosfer ketegangan di antara mereka. Tubuh Ethan menegang. Tangan kanannya secara reflek bersiap mencabut pistol. dia melangkah waspada ke pintu, mengintip dari celah jendela sebelum akhirnya membuka pintu dengan cepat.

"Ethan kamu di dalam kan? ini ibuk!" Seorang wanita dengan hijab instan dan daster bunga membawa rantang besar berisi nasi dan lauk pauk, dia mengetuk pintu depan kontrakan ini.

Cklek...

"Ya ampun Than, lama banget sih kamu buka pintunya!" Omel Bu Ningsih sambil membawa masuk bungkusan yang dia bawa.

"Maaf buk aku tadi masih di dalam kamar mandi" Ethan menjawab gugup.

"Nih ibuk bawakan buat kamu rantangan masakan ibuk, ada nasi liwet sama sambel kesukaan kamu, bisa buat sarapan sama makan siang, oh iya bunda kamu masih di sini kan?" tanya Bu Ningsih dengan ceria, namun, keceriaan di wajah wanita paruh baya mendadak membeku saat pandangannya jatuh pada sosok Maya yang sedang duduk santai di depan meja kecil.

"Eh siapa dia? kok bukan Bu Ningrum" Bu Ningsih menatap heran Ethan, lalu beralih lagi menatap Maya dengan tatapan penuh selidik dan curiga. Setahu dia Ethan tidak pernah kedatangan tamu wanita selain ibu angkatnya, apalagi dia kenal Ethan itu pria yang sangat kaku, dingin, dan sama sekali tidak pernah punya pacar.

Bagaimana bisa sekarang ada seorang perempuan asing yang cantik di rumahnya, meskipun penampilannya agak sedikit berantakan,, perempuan itu malah sedang asyik duduk di kursi.

"Lho nak... dia siapa?" tanya Bu Ningsih curiga, menuntut penjelasan. Otak Ethan berputar cepat. Dia tidak mungkin jujur mengatakan bahwa wanita itu adalah putri menteri yang dia culik demi bayaran ratusan juta.

Jika si ibu kontrakan itu tahu pasti akan terlibat dalam bahaya besar. Dengan menahan napas, Ethan terpaksa melontarkan satu-satunya kebohongan yang bisa menyelamatkan situasi.

"Dia... pacarku Bu tadi bunda baru saja balik ke Bogor dan nitipin dia ke aku," ucap Ethan pendek, suaranya agak kaku.

"Hah?! Uhuk~uhuk...." Maya yang sedang minum air sampai tersedak mendengar klaim sepihak itu. Dia melotot tajam pada Ethan, hendak memprotes dan ngamuk lagi. Namun, kode mata yang diberikan Ethan, berkata 'diam atau kepala kamu berlubang', membuat Mayra terpaksa menelan kembali kalimatnya.

Kontras dengan Maya, wajah Bu Ningsih justru langsung berubah cerah. Kegembiraan yang luar biasa terpancar dari matanya. "Ahh begitu ya?! apa dia calon istri kamu yang pernah di bilang sama Bu Ningrum kapan hari?" teriak si ibu kontrakan itu dengan antuasias.

"Demi apa?! Ya ampun ibu kira bunda mu cuma bercanda, ternyata kamu beneran sudah ada calon istri ya?!" pekik Bu Ningsih langsung menghambur mendekati meja makan dan meletakkan semua bawaannya, dia menatap ramah pada Maya yang masih bengong tak karuan. "Ya ampun neng siapa nama kamu? ibu senang banget! ibu pikir Ethan bakal menjomblo seumur hidup karena saking dingin, kaku dan galaknya!" Melihat binar tulus dan keramahan sikap Bu Ningsih, amarah Maya perlahan mereda dan dia jadi segan.

Sebagai seorang dokter, Maya memiliki empati yang tinggi. dia bisa melihat bahwa ibu kontrakan itu orang yang baik. Maya pun tersenyum ramah, menyambut uluran tangannya.. "Nama saya Maya Bu, perkenalkan" sapa Maya lembut, suaranya kembali manis khas seorang dokter yang sedang menghadapi pasien.

Bu Ningsih langsung jatuh hati pada keramahan Maya. "Oh neng Maya ya, kenalkan saya Bu Ningsih yang punya kontrakan ini, neng Maya cantik banget, kok mau sih neng sama beruang kutub kayak Ethan? Nanti kalau dia macem-macem, bilang ke ibuk saja neng. Biar ibuk marahin dia" Maya hanya bisa tersenyum gugup lalu melirik Ethan dengan sinis, pria itu malah cuma bisa mengusap pelipisnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Cinta Sang Penculik    33. Restu dan binar ceria.

    Pipi Ethan mendadak merona tipis mendengar pernyataan itu. Pria tegap yang ditakuti seluruh jaringan mafia itu kini tampak salah tingkah hanya karena ucapan cinta dari Maya. "Katakan lagi aku mau dengar lagi sayang" bisik Ethan seraya merengkuh pinggang Maya, menempelkan kening mereka berdua. "Gak mau, ah. Nanti kamu makin manja dan besar kepala," goda Maya tertawa kecil. "Biarin. Sama kamu bebas, boleh kan manja." sahut Ethan santai, lalu mendaratkan ciuman lembut di bibir Maya, menyesap rasa manis yang mengusir seluruh sisa kegelapan dari masa lalunya. Di ambang pintu ruang keluarga, Papi Aditya yang didorong oleh Pak Seno ajudannya dan. Bu Larasati yang akan masuk ke pintu ruangan tamu ini tersenyum lega menyaksikan pemandangan hangat itu. Mereka bahkan belum sempat mengucapkan salam tapi sudah dapat pemandangan indah itu, bik Wina yang berjalan di belakang menutup bibirnya dan menahan tawa, melihat dua majikannya yang tengah berciuman itu. "Ehemm!" Pak Aditya sengaja

  • Jerat Cinta Sang Penculik    32. Rencana pernikahan yang terwujud

    Lampu kilat kamera wartawan masih menyambar-nyambar di halaman luar Gedung Kejaksaan Agung. Di dalam ruang pemeriksaan yang dingin dan beraroma pemutih, Dimas duduk dengan tangan terborgol di atas meja besi. Kemeja mewahnya kini lecek, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah sembab akibat kombinasi rasa panik, marah, dan keputusasaan. Seseorang mengetuk pintu ruang tahanan sementara itu. "Tersangka Dimas Bastian, Anda memiliki waktu sepuluh menit dengan tamu khusus," ujar petugas kejaksaan seraya membukakan pintu. Dimas mendongak gusar, berharap itu adalah pengacara mahal yang disewa papinya sudah datang. Namun, begitu sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk, napas Dimas mendadak tertahan di tenggorokan. _E-Ethan! Pria tampan itu melangkah masuk dengan santai, kedua tangannya terbenam anggun di saku celana bahan hitam. Tidak ada guratan amarah di wajah tampannya, yang ada hanyalah sebuah senyum dingin, tipis, dan penuh kemenangan mutlak yan

  • Jerat Cinta Sang Penculik    31. Penangkapan mantan tunangan.

    Suasana di kediaman mewah keluarga Pak Fahmi sore itu mendadak tegang luar biasa. Di dalam ruang kerja, Dimas mengemas berkas-berkas penting dan beberapa paspor ke dalam tas hitam dengan tangan bergetar hebat. Peluh dingin membasahi keningnya. Berita mengenai penyitaan aset dan penetapan status tersangka dari KPK serta Kejaksaan Agung sudah menyebar cepat di media massa. "Sialan! Bagaimana bisa dokumen transaksi rekening offshore itu jatuh ke tangan penyidik?!" umpat Dimas histeris seraya menutup resleting tasnya. "Dimas! Kamu mau ke mana, Nak?!" Pak Fahmi sang ayah masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat pasi, kepalanya penuh kepanikan. "Dimas harus kabur sekarang, Papi! Lewat jalur rahasia, jet pribadi di bandara privat sudah menunggu sebelum petugas datang!" teriak Dimas panik. Namun, belum sempat Dimas melangkah keluar pintu, suara sirine mobil dinas kepolisian, kejaksaan dan KPK serta derap langkah sepatu militer bergema dari arah halaman depan. Brak!! Pintu utama rumah

  • Jerat Cinta Sang Penculik    30. Pagi dengan harapan baru

    Cahaya matahari pagi di pantai perlahan menerobos masuk melalui celah gorden kamar mungil ini, memancarkan pendar keemasan di atas ranjang king yang isinya sudah berantakan, kamar yang kemarin rapi, pagi ini seperti baru di hantam badai. Maya perlahan membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang indranya rasakan adalah kehangatan luar biasa yang mendekap erat tubuhnya, disusul rasa ngilu samar di beberapa bagian tubuhnya terutama di kewanitaannya yang masih sangat perih, dan tubuhnya yang remuk seperti habis olahraga berat Mulai pagi ini dia bukan gadis perawan lagi, dengan penuh kesadaran dia memberikan tubuhnya pada pria yang masih terlelap dan tengah memeluknya posesif semalaman, pria itu masih tidur nyenyak dengan lengan kekarnya yang memeluk pinggangnya. Wajah cantiknya seketika merona, seperti sebuah pengingat nyata atas badai gairah yang membakar mereka semalaman di kamar ini, seakan kamar ini bisa menjadi saksi betapa panas pertempuran mereka semalam dan itu terjadi ber

  • Jerat Cinta Sang Penculik    29. Malam indah kita, di pantai

    Angin malam berhembus membelai rambut mereka yang saling berantakan, sementara pelukan Ethan kian erat seakan tak ingin melepaskan. Ciuman itu berlanjut, semakin panas dan mendesak, kedua bibir mereka saling mengigit lembut dan menjangkau isi li.dah hingga napas mereka berdua terengah-engah. Ethan sedikit menjauh sebentar, menatap wajah Maya yang memerah dengan penuh cinta, lalu kembali mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Detik berikutnya, Ethan menunduk dan menekan tengkuk Maya, lalu mengunci bibir Maya dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan posesif. "Eungh, than..." Maya melenguh lirih saat pagutan Ethan mendominasi indranya. Ciuman Ethan yang panas, posesif, brutal dan penuh tuntutan, dengan bibirnya yang bermain begitu ahli meliuk dan menggigit lembut, membuat Maya merinding dan lemas, hingga hatinya membuncah juga menginginkan lebih. Persis seperti karakternya yang seorang eksekutor alpha yang berani. Maya saat ini pasrah, justru ciuman seperti ini yang membua

  • Jerat Cinta Sang Penculik    28. Ketakutan Maya dan cinta kasih

    Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bukan karena kemewahan yang terpampang di hadapannya, melainkan karena ketulusan hati pria itu yang selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih sedikit pun. dia merapatkan tubuhnya ke dada bidang Evan, merasa begitu beruntung dan dicintai pria itu sepenuh hati. Matahari mulai condong ke barat dan langit mulai gelap saat mereka meninggalkan Butik One Element. Tangan Maya kini penuh dengan kantong-kantong belanjaan berisi gaun yang indah dan harganya selangit, pakaian sehari-hari yang elegan, sepatu kulit bermotif cantik, serta tas berdesain mewah yang semuanya dibeli Ethan untuknya tanpa ragu sedikit pun. Maya masih takjub melihat betapa mudahnya Ethan mengeluarkan kartu pembayaran blackcardnya, seakan harga tak pernah menjadi hal yang ia pikirkan. Perjalanan mereka berlanjut menuju tempat yang kemarin pernah Maya dan Ethan kunjungi. Jauh dari keramaian kota, di tepi pantai Anyer yang airnya jernih berkilauan memantulkan warn

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status