Matahari belum terlalu tinggi saat Yanto mengetuk pintu belakang rumah Bu Ningsih. Tak butuh waktu lama, selot kayu berbunyi dan pintu terbuka. "Loh, Mas Yanto?" Dewi terbelalak, matanya yang masih agak sembap karena baru bangun tidur, langsung berbinar. "Pagi-pagi kok sudah ke sini? Ada apa, Mas?" "Ibu ada ta Mbak?" tanya Yanto cepat, sedikit terburu-buru. "Ada di dapur, Mas. Masuk dulu aja!" ajak Dewi seraya melapangkan jalan. Bu Ningsih yang sedang menyeduh teh di meja dapur ikut menoleh kaget. "Oalah, Yanto. Ada apa toh, Le? Kok kayak dikejar hantu begitu?" Yanto mendudukkan diri di kursi kayu, menatap Bu Ningsih dan Dewi bergantian. "Bu, Mbak, aku mau minta tolong. Ini penting banget." Bu Ningsih meletakkan cangkirnya, raut wajahnya mendadak serius. "Minta tolong apa, To? Muka kamu kok tegang banget?" "Mbak Sari sama bayinya sekarang ada di kontrakanku," ujar Yanto blak-blakan. "Duh Gusti!" Bu Ningsih menepuk dadanya, sementara Dewi menutup mulutnya terperanjat.
Last Updated : 2026-08-09 Read more