Mata Meihua memejam, ketika herbal penetral racun itu terlempar ke wajahnya. Sengaja ia tidak menghindar, karena tidak mau Jenderal Bao terlampau curiga padanya.Bajingan, sialan, manusia tak jelas, kalau bukan karena punya tujuan, sudah aku tonjok hidungmu sampai terbenam, umpat Meihua dalam hati saja.Jenderal Bao mengerutkan kening. Sungguh ia tak ada maksud ingin melempar wajah Meihua begitu saja. Ia pikir gadis berwajah bulat itu akan menghinar, ternyata kini pasrah tanpa perlawanan.“Maaf, aku tidak sengaja,” kata Jenderal Bao dengan suara santai.“Kalau begitu hamba permisi dulu, Tuan,” balas Meihua dengan gigi rapat. Ia menahan amarah di dadanya.Pelayan itu keluar sambil menyeka wajahnya. Di lorong ia berpapasan dengan Wuji, dan Meihua memilih berputar ke lorong lain daripada harus menyapa ajudan yang wajahnya sama kaku seperti tuannya.Saat masuk ke ruang kerja, Wuji melihat Jenderal Bao sedang berpikir. Ia memutuskan bertanya.“Tuan, apakah terjadi sesuatu dengan Huamei?” t
آخر تحديث : 2026-08-15 اقرأ المزيد