Beranda / Pendekar / Bayang Pedang Cahaya Bulan / BAB 2: DELAPAN YANG TERSISA

Share

BAB 2: DELAPAN YANG TERSISA

Penulis: Stoner 27
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 13:57:42

Tiga puluh langkah di belakang Nenek Yue, seorang pengawal setengah baya bernama Lao Wei, mendekat ke samping pengawal termuda dalam rombongan.

"Berapa hitunganmu?" tanyanya pelan.

Pemuda itu melirik ke belakang sekilas. "Dari suara kuda, tiga ratus. Mungkin lebih. Setidaknya dua kompi infanteri."

"Kudamu bagus." Lao Wei hampir tersenyum. "Tapi salah. Lima ratus kuda, bukan dua kompi, melainkan empat. Dengarkan iramanya lebih cermat. Ada dua formasi terpisah. Satu di lembah utama, satu lagi memotong dari tebing barat."

Pemuda itu memucat. "Mereka mengepung kita..."

"Belum. Mereka baru mencoba." Lao Wei mengatur napas dengan terampil, tanpa kehilangan satu langkah pun. "Jika sudah mengepung, kita tidak akan mendengar suara kuda. Kita akan mendengar anak panah."

Seolah alam semesta memutuskan bersikap dramatis, di kejauhan terdengar suara terompet perunggu panjang, satu nada tinggi disusul dua nada pendek. Sinyal komando.

"Ah," kata Lao Wei. "Mereka sudah melihat obor kita."

"Tapi kita sudah mematikan obor..."

"Kita mematikan obor kita. Namun bayangan kita masih bergerak di permukaan batu." Ia mengangguk ke dinding tebing kiri yang sesekali menangkap sisa cahaya obor musuh di kejauhan. "Jenderal Liu bukan orang bodoh. Itulah masalahnya."

Pemuda itu ingin bertanya lebih banyak, tetapi di depan rombongan, Nenek Yue mengangkat tangan, isyarat tanpa suara yang sudah dipahami semua pengawal.

Semua berhenti.

Dalam keheningan tiba-tiba itu, suara derap kuda dari kejauhan terdengar jauh lebih nyata, lebih jelas, lebih dekat.

Nenek Yue menatap ke depan, ke arah ujung lembah yang masih gelap. Mata tuanya yang tajam menerobos kegelapan dengan cara tidak wajar bagi seseorang seusianya, cara pandang seseorang yang telah melatih indra batinnya berpuluh-puluh tahun.

"Celah Bulan Sabit," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Satu li lagi. Mungkin kurang."

Lao Wei mendekat. "Tuan Putri, tebing sisi barat..."

"Aku sudah mendengar mereka sejak tadi." Nada Nenek Yue tidak berubah. "Satu kompi, mencoba turun untuk memotong. Namun medan tebing barat berbatu dan curam. Mereka tidak akan sampai kurang dari setengah jam."

"Dan pasukan utama di belakang kita?"

"Lima belas menit. Kurang." Matanya melirik ke rombongan, ke para lansia yang sudah kelelahan, ke anak-anak yang separuhnya tertidur di gendongan, ke wajah yang sudah melewati batas. "Kita tidak akan sampai bersamaan."

Suasana hening sejenak. Semua orang sudah tahu apa arti kalimat itu.

"Jadi." Lao Wei berbicara perlahan. "Seseorang harus menahan mereka di sini."

"Bukan seseorang." Nenek Yue memandangi wajah pengawal setia yang mengitarinya, tujuh orang, delapan termasuk Lao Wei, telah bersamanya lebih dari sepuluh tahun, beberapa seperti keluarga. "Beberapa orang."

Tidak ada yang berbicara.

Kemudian, pemuda yang tadi berbicara dengan Lao Wei, yang baru bertugas dua bulan, yang tali pedangnya biru terang masih terlihat samar dalam kegelapan, melangkah maju. "Aku bersedia."

Satu demi satu, yang lain ikut melangkah.

Yue Chen memperhatikan semua itu. Dadanya terasa seperti diperas tangan tak kasatmata. Ia ingin berkata sesuatu, ingin memprotes, tetapi kata-kata tidak mau keluar. Maka, ia menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan.

Delapan pengawal. Delapan orang yang akan tinggal, tidak akan lagi berlari.

Nenek Yue melihatnya. Dalam kegelapan itu, tatapan keduanya bertemu.

"Chen-er," kata Nenek Yue, suaranya untuk pertama kalinya malam ini terdengar sedikit lebih lembut. "Antar yang lain ke depan. Jaga Paman He dan anak-anak."

"Nenek..."

"Itu perintah." Lembut, tetapi tidak ada ruang untuk dibantah. "Bukan permintaan."

Yue Chen mengalihkan pandangan ke rombongan yang menunggu, wajah kelelahan, anak-anak mengantuk, orang tua yang tak kuat berlari lebih jauh. Ia mengepalkan tangan, berbalik, dan berjalan ke depan sambil menghitung langkah. Satu. Dua. Tiga. Setiap langkah yang menjauh dari neneknya terasa seperti langkah yang salah, tetapi ia terus menghitung, sebab jika berhenti menghitung, ia akan berhenti bergerak.

"Dengarkan aku," kata Nenek Yue kepada pengawal yang tersisa, suaranya kembali tegas. "Mulut celah itu sempit, tidak lebih dari empat orang bisa menyerang bersamaan. Itu keuntungan kita. Pertahankan mulut celah itu selama kalian bisa. Satu jam. Setengah jam. Semampunya."

Lao Wei mengangguk, wajahnya setenang batu karang. "Dan Tuan Putri sendiri?"

"Aku akan menutup rombongan hingga Celah, lalu kembali membantu kalian."

"Dengan hormat, Tuan Putri..."

"Aku tahu apa yang ingin kaukatakan, Wei-lao." Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, bukan senyum yang dipaksakan untuk memberi harapan palsu, melainkan senyum seseorang yang telah berdamai dengan segala kemungkinan yang ada. "Aku tahu kemampuanku sendiri lebih baik daripada siapa pun. Jangan mengkhawatirkan aku."

Lao Wei menatapnya lama, kemudian menunduk, bukan sekadar anggukan penghormatan, melainkan busur dalam, dilakukan oleh seseorang yang mungkin tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk melakukannya.

"Demi kehormatan keluarga Yue," ucapnya pelan.

Para pengawal lain mengikuti. "Demi kehormatan keluarga Yue," ucap mereka bersamaan.

Nenek Yue tidak menjawab. Ia berbalik, kembali berjalan ke depan mengikuti rombongan.

Di belakangnya, derap kuda semakin jelas. Di depannya, di ujung gelap lembah, mulut celah sempit menanti. Di antara keduanya, di antara delapan orang yang baru bersumpah untuk tidak lagi berlari dan sekelompok orang yang masih berjuang mencapai keselamatan, tidak ada apa-apa lagi selain batu, angin, dan sisa waktu yang terus menyusut tanpa bisa dihentikan siapa pun.

Lao Wei mengatur delapan orang itu dalam formasi yang tidak asing baginya, formasi yang telah ia ajarkan sendiri kepada pengawal muda selama bertahun-tahun: tiga di depan membentuk dinding pedang, dua di sisi menjaga sudut serang, tiga di belakang menahan siapa pun yang lolos. Ini bukan formasi untuk menang, melainkan bertahan selama mungkin, prinsip lama dari padepokannya dulu, bahwa dalam pertahanan sejati yang penting bukan siapa jatuh lebih dulu, melainkan berapa lama garis itu tetap berdiri.

Pemuda bertali pedang biru berdiri di ujung kiri, tangannya sedikit gemetar, kakinya kokoh menapak tanah. Lao Wei melihat itu, tersenyum tipis.

"Gemetar itu wajar," katanya pelan, hanya untuk pemuda itu dengar. "Yang tidak wajar adalah jika kakimu ikut goyah. Kakimu tetap diam. Itu sudah cukup."

Dari kejauhan, garis obor kini menjadi dinding api yang jelas, dan di baliknya bayangan berkuda mulai tampak satu demi satu memasuki mulut lembah dengan kedisiplinan pasukan yang terlatih membunuh tanpa ragu.

Lao Wei menghela napas panjang, menggenggam gagang pedangnya, dan berbisik kata-kata yang telah menjadi sumpahnya sejak muda.

Barisan pertama musuh kini cukup dekat hingga wajah mereka mulai tampak di bawah cahaya obor: keras, tanpa ekspresi, mata terbiasa menatap kematian orang lain tanpa berkedip.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 170: PURNAMA

    Satu bulan telah berlalu sejak malam di puncak gunung itu, sejak Zhao Kuang jatuh berlutut dengan tubuh kosong tanpa qi. Malam ini, bulan kembali penuh, bulat sempurna, menggantung rendah di atas Sekte Bulan Sabit seperti cermin raksasa yang menuangkan cahaya putih ke setiap genting, setiap batu, setiap wajah yang menengadah menatapnya.Di halaman latihan, Yue Chen berdiri sendirian. Tidak ada murid lain di sekitarnya, tidak ada murid yang perlu ia lindungi, tidak ada lawan yang perlu ia hadapi. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi dadanya perlahan, tanpa dipaksa. Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang. Kalimat itu masih terngiang di kepalanya, bahkan setelah bertahun-tahun.Ia mulai bergerak. Tujuh Langit Awan, lalu berpindah ke Penjepit Giok, dua jari terentang, cahaya giok tipis berkedip di ujungnya, memantulkan sinar bulan hingga tampak seperti embun yang menyala. Tidak ada tekanan dalam gerakannya malam it

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 169: BATU NISAN DAN TUNAS BAMBU

    Sore itu langit di atas Sekte Bulan Sabit berwarna jingga pudar, seperti kain yang sudah terlalu lama dijemur dan warnanya mulai luntur di tepi. Yue Chen berjalan menyusuri halaman dalam sendirian, langkahnya pelan, tidak tergesa seperti biasanya. Reruntuhan bekas serangan lama masih tersisa di beberapa sudut, batu bata yang belum diganti, retakan di lantai yang belum ditambal. Tapi hari itu, matanya tertuju pada satu tempat saja: deretan makam di ujung halaman.Batu nisan yang terbelah masih berdiri di sana, separuh saja, seperti gigi yang patah. Yue Chen berhenti di depannya. Ia berjongkok, ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. Ada nama di sana, tapi hanya separuh yang tersisa. Huruf-huruf terakhir hilang bersama serpihan yang terlempar entah ke mana ketika pedang Zhao Kuang menebasnya beberapa hari lalu.Ia menelusuri garis retakan dengan jari telunjuk, pelan, seperti membaca sesuatu yang tidak lagi bisa dibaca.Langkah kaki terdeng

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 168: SETENGAH LANGKAH

    Pagi itu halaman latihan Sekte Bulan Sabit dipenuhi orang lebih banyak dari biasanya. Bukan karena diumumkan. Kabar semacam ini menyebar sendiri, dari satu murid ke murid lain, dari satu bisik ke bisik berikutnya, sampai ketika matahari baru separuh naik dari balik punggung gunung, hampir seluruh penghuni sekte sudah berdiri berjajar di tepi halaman.Murid-murid muda berdiri di barisan depan, mata mereka berbinar penasaran. Di belakang mereka, murid-murid senior berdiri dengan tangan terlipat, wajah tenang namun penuh perhatian. Lan Feiyan berdiri di dekat pilar utama, jubah birunya berkibar pelan tertiup angin pagi. Tetua Zhang berdiri tidak jauh darinya, tongkat tuanya bertumpu di tanah, matanya yang sudah dimakan usia tetap tajam mengamati setiap sudut halaman.Murid Ketiga duduk di atas batu di pinggir halaman, tangan kanannya yang penuh bekas hitam tergeletak di pangkuan, tidak bisa terangkat lebih tinggi dari bahu. Ia menonton dengan senyum tipis, s

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 167: PEDANG YANG MENEMUKAN ARAHNYA

    Halaman latihan Sekte Bulan Sabit masih basah oleh embun ketika Duan Wuya tiba, jauh sebelum matahari sepenuhnya naik dari balik punggung gunung. Tidak ada murid lain di sana. Hanya suara burung yang baru bangun dan angin pagi yang menggigit kulit lengannya yang masih terbalut perban tipis, bekas luka dari pertarungan melawan sepupunya sendiri di reruntuhan kuil tua.Ia berdiri di tengah halaman, pedang panjang tergenggam di tangan kanan. Bilahnya masih bersih, terawat, meski gagangnya sudah menunjukkan bekas telapak tangan yang menggenggamnya berkali-kali dalam pertarungan sungguhan, bukan sekadar latihan.Ia menarik napas. Perlahan. Mengingat kata-kata yang diajarkan padanya, bukan oleh Shen Wuyou secara langsung, melainkan oleh Yue Chen yang mengulanginya dari mulut gurunya sendiri.Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang.Kaki Duan Wuya bergeser, membentuk kuda-kuda yang sudah ia kenal luar kepala. Ia mulai bergerak, pedangny

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 166: JALAN YANG TIDAK DIKETAHUI

    Paviliun utama Sekte Bulan Sabit masih menyimpan bau obat dan asap dupa yang tidak pernah benar-benar hilang sejak hari-hari pertempuran. Shen Wuyou berdiri di depan lemari kayu tua, tangannya menyentuh kain jubah putih yang tergantung di sana, bersih, belum pernah dipakai. Ia melepas jubah yang membalut tubuhnya sejak malam di puncak gunung, jubah yang ujungnya robek dan nodanya sudah mengering menjadi cokelat tua di beberapa titik.Untuk pertama kalinya sejak bab 153, ia berganti pakaian.Jarinya menelusuri robekan di ujung kain lama itu sebelum melipatnya. Tidak buru-buru. Setiap lipatan dilakukan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyusun sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kain. Ia membuka laci bawah lemari, tempat biasanya kosong, dan meletakkan jubah lama itu di sana. Ia menatapnya sejenak. Noda itu tidak hilang. Ia tidak berusaha menghilangkannya. Ia menutup laci, pelan, seperti menutup peti mati yang belum saatnya dikubur.

  • Bayang Pedang Cahaya Bulan   BAB 165: DUA VERSI TUJUH LANGIT AWAN

    Pesan itu datang lewat seorang murid muda yang mengetuk pintu kamar Yue Chen saat matahari baru saja terbit, membawa selembar kain kecil bertuliskan satu kalimat tanpa tanda tangan: temui aku di lembah berangin barat. Yue Chen tidak bertanya siapa pengirimnya. Ia sudah tahu.Perjalanan menuju lembah itu memakan waktu separuh pagi, menyusuri jalur yang sudah lama tidak ia lewati sejak tahun-tahun awal ia berlatih sendirian di sana. Angin masih berembus dari arah barat seperti dulu, membawa aroma tanah kering bercampur wangi rerumputan liar. Batu-batu besar yang dulu menjadi saksi pertarungan pertamanya masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu tidak menyentuh mereka sedikit pun.Su Meiyin sudah menunggu di tengah lembah ketika Yue Chen tiba, berdiri tegak dengan jubah abu kebiruan yang berkibar pelan tertiup angin. Sepuluh jarinya terentang di sisi tubuhnya, namun Benang Emas tidak aktif, tidak ada kilau perak tak terlihat yang biasa menyelimuti gera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status