เข้าสู่ระบบSerangan pertama bukan berasal dari pasukan utama.
Liu Tianming, dengan kebijakan yang membuat banyak orang menganggapnya sebagai jenderal terbaik dalam dua generasi, mengirim dua puluh pemanah ke depan. Mereka berlutut dalam satu baris pada jarak yang aman, membidik sedikit ke atas untuk mengukur lintasan.
"Tembak!"
Dua puluh anak panah melesat ke udara.
"Berlindung!" teriak Lao Wei.
Namun, Nenek Yue tidak berlindung.
Ia justru mengambil satu langkah ke depan. Pergelangan tangannya bergerak.
Bukan gerakan yang tampak dramatis. Terlihat sangat sederhana, seperti seseorang yang mengipaskan debu dari bajunya. Satu sapuan horizontal, tubuh tidak berputar, hanya pergelangan tangan yang berputar, prinsip dasar Sekte Bulan Sabit yang disebut Hemat Gerak, Penuh Makna, bahwa setiap ons tenaga yang dikeluarkan harus tepat guna, tidak boleh berlebih walau seujung rambut. Qi mengalir tanpa suara dari intinya menuju ujung pedang, membentuk tekanan angin yang berputar dalam setengah lingkaran di depannya.
Lima anak panah. Satu sapuan. Tiga jatuh ke tanah. Dua terpental ke samping.
Sisanya ditangani oleh para pengawal lain.
Yue Chen, yang jantungnya tadi hampir berhenti berdetak, menyadari sesuatu, neneknya belum pernah benar-benar memperlihatkan kemampuan bertarungnya di hadapannya. Selama ini, ia hanya pernah menyaksikan latihan ringan, gerakan dasar. Namun, apa yang baru saja dilihatnya bukanlah latihan ringan. Bukan pula gerakan dasar.
Itu adalah Jari Giok di Puncak Awan. Yang masih hidup. Yang masih bernapas. Sebuah nama yang dahulu hanya menjadi legenda di antara cerita para pengawal istana, kini berdiri nyata di depannya, mengenakan wajah orang yang paling ia kenal, orang yang selama ini hanya ia pikir sebagai seorang nenek yang lembut dan penyayang.
"Jangan terbengong!" Suara Nenek Yue menyeretnya kembali ke kenyataan. "Jaga sisi kirimu!"
Seorang prajurit sudah mendekat dari sisi kiri, memanfaatkan momen distraksi akibat serangan panah tadi. Yue Chen bergerak tanpa berpikir, pedangnya terangkat dalam gerakan pertahanan yang sudah ratusan kali dilatihnya, jurus dasar bernama Menampung Air Hujan, telapak pedang selalu miring, tidak pernah menahan benturan secara lurus.
Baja beradu baja.
Kejutan di pergelangan tangannya lebih keras daripada yang diperkirakan, prajurit di hadapannya lebih kuat daripada dirinya. Namun, ia tidak kehilangan langkah. Ia menyerap benturan dengan memiringkan tubuh ke kiri, memutar pergelangan tangan, mengalirkan tenaga benturan itu ke samping alih-alih melawannya secara langsung, persis seperti yang diajarkan neneknya bertahun-tahun lalu, air tidak pernah melawan batu, ia hanya mengalir mengelilinginya.
Teknik dasar. Teknik paling dasar. Namun, berhasil.
Prajurit itu kehilangan keseimbangan selama satu langkah, cukup bagi Yue Chen untuk mundur kembali ke posisinya di barisan.
Tidak ada waktu untuk berpikir. Tidak ada waktu untuk merasa bangga atau takut. Hanya ada gerakan, lalu gerakan berikutnya, lalu gerakan berikutnya lagi.
Napasnya terengah, bukan hanya karena tenaga yang terkuras, melainkan karena setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawan, ia merasakan getaran itu menjalar hingga ke bahu, hingga ke tulang rusuknya, seolah tubuhnya sendiri sedang memberi tahu bahwa ini bukan latihan di halaman belakang rumah, bukan sparring dengan pengawal yang sengaja mengalah. Ini nyata. Setiap ayunan pedang di depannya bermaksud mengambil nyawanya.
Di sekelilingnya, suara pertempuran menjadi satu simfoni yang mengerikan, denting logam yang tidak pernah berhenti, teriakan perintah dari kedua belah pihak, erangan orang yang terluka, dan di bawah semua itu, suara napas terengah dari puluhan tenggorokan yang berjuang mempertahankan diri masing-masing. Bau darah bercampur dengan bau debu dan asap obor, menempel di hidung, di tenggorokan, di setiap tarikan napas.
Mulut celah yang sempit menjadi penentu jalannya pertempuran. Liu Tianming tidak bisa menerjunkan lebih dari enam atau tujuh prajurit sekaligus ke dalam celah sempit itu tanpa mereka saling menghalangi. Keunggulan jumlah tidak berlaku sepenuhnya di sini. Namun, pasukan kekaisaran bisa bergantian. Ketika satu prajurit kelelahan atau terluka, ia ditarik mundur dan digantikan oleh yang masih segar. Tidak ada yang menggantikan pengawal yang telah gugur.
Pengawal pertama yang jatuh adalah pemuda yang baru bertugas dua bulan, yang tali pedangnya berwarna biru terang, yang namanya bahkan tidak pernah diketahui oleh Yue Chen. Ia jatuh dengan cara yang sederhana, tidak melihat serangan dari sudut kiri bawah karena matanya terlalu fokus ke depan. Ia jatuh tanpa bersuara, seperti seseorang yang tiba-tiba duduk karena kakinya melemah. Tali pedang biru itu terlepas dari pinggangnya, meliuk di tanah berdebu seperti seekor ular yang kehilangan pemiliknya.
Yue Chen melihatnya dari sudut matanya. Sesuatu di dalam dadanya retak. Ia menghitung. Tujuh. Tujuh pengawal yang tersisa. Tujuh orang yang masih berdiri. Tujuh orang yang masih bisa melihat langit malam ini.
Pengawal kedua, ketiga, keempat, jatuh satu demi satu. Mulut celah yang mereka pertahankan semakin penuh dengan tubuh yang tidak lagi berdiri.
Namun, mereka bertahan.
Setengah jam. Empat puluh menit. Satu jam berlalu.
Waktu terus bergerak dengan cara yang terasa tidak adil, terlalu lambat bagi pihak yang sedang menderita, terlalu cepat bagi pihak yang bertahan. Yue Chen kehilangan hitungan berapa kali ia mengayunkan pedangnya, berapa kali logam beradu logam, berapa kali ia melangkah mundur lalu maju lagi hanya untuk mempertahankan sejengkal tanah di mulut celah itu. Yang ia tahu pasti, tubuhnya semakin berat, lengannya semakin gemetar, dan setiap kali ia mencuri pandang ke arah neneknya, ia melihat wanita tua itu masih berdiri tegak, masih bergerak dengan keanggunan yang tidak tersentuh oleh kelelahan, pedangnya tidak sekali pun terangkat lebih tinggi daripada yang diperlukan, seolah usia dan luka bukanlah sesuatu yang berlaku baginya malam ini.
Nenek Yue sendiri tahu betul apa yang tengah terjadi pada tubuhnya, sebab prinsip pertama yang ditanamkan gurunya dahulu adalah bahwa Qi yang terkuras tidak pernah kembali secepat yang diharapkan, dan bahwa seorang pendekar sejati mengukur napasnya bukan berdasarkan seberapa lama ia mampu bertahan, melainkan seberapa hemat ia membakar apa yang tersisa.
Namun, di sela-sela denting logam yang tidak pernah berhenti, Yue Chen mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada pedang musuh, jumlah orang di sekelilingnya yang masih bisa ia hitung terus berkurang, sementara di kejauhan, dari balik barisan musuh yang seolah tak berujung, sebuah perintah baru mulai bergema, sebuah perintah yang akan mengubah segalanya.
Satu bulan telah berlalu sejak malam di puncak gunung itu, sejak Zhao Kuang jatuh berlutut dengan tubuh kosong tanpa qi. Malam ini, bulan kembali penuh, bulat sempurna, menggantung rendah di atas Sekte Bulan Sabit seperti cermin raksasa yang menuangkan cahaya putih ke setiap genting, setiap batu, setiap wajah yang menengadah menatapnya.Di halaman latihan, Yue Chen berdiri sendirian. Tidak ada murid lain di sekitarnya, tidak ada murid yang perlu ia lindungi, tidak ada lawan yang perlu ia hadapi. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi dadanya perlahan, tanpa dipaksa. Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang. Kalimat itu masih terngiang di kepalanya, bahkan setelah bertahun-tahun.Ia mulai bergerak. Tujuh Langit Awan, lalu berpindah ke Penjepit Giok, dua jari terentang, cahaya giok tipis berkedip di ujungnya, memantulkan sinar bulan hingga tampak seperti embun yang menyala. Tidak ada tekanan dalam gerakannya malam it
Sore itu langit di atas Sekte Bulan Sabit berwarna jingga pudar, seperti kain yang sudah terlalu lama dijemur dan warnanya mulai luntur di tepi. Yue Chen berjalan menyusuri halaman dalam sendirian, langkahnya pelan, tidak tergesa seperti biasanya. Reruntuhan bekas serangan lama masih tersisa di beberapa sudut, batu bata yang belum diganti, retakan di lantai yang belum ditambal. Tapi hari itu, matanya tertuju pada satu tempat saja: deretan makam di ujung halaman.Batu nisan yang terbelah masih berdiri di sana, separuh saja, seperti gigi yang patah. Yue Chen berhenti di depannya. Ia berjongkok, ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. Ada nama di sana, tapi hanya separuh yang tersisa. Huruf-huruf terakhir hilang bersama serpihan yang terlempar entah ke mana ketika pedang Zhao Kuang menebasnya beberapa hari lalu.Ia menelusuri garis retakan dengan jari telunjuk, pelan, seperti membaca sesuatu yang tidak lagi bisa dibaca.Langkah kaki terdeng
Pagi itu halaman latihan Sekte Bulan Sabit dipenuhi orang lebih banyak dari biasanya. Bukan karena diumumkan. Kabar semacam ini menyebar sendiri, dari satu murid ke murid lain, dari satu bisik ke bisik berikutnya, sampai ketika matahari baru separuh naik dari balik punggung gunung, hampir seluruh penghuni sekte sudah berdiri berjajar di tepi halaman.Murid-murid muda berdiri di barisan depan, mata mereka berbinar penasaran. Di belakang mereka, murid-murid senior berdiri dengan tangan terlipat, wajah tenang namun penuh perhatian. Lan Feiyan berdiri di dekat pilar utama, jubah birunya berkibar pelan tertiup angin pagi. Tetua Zhang berdiri tidak jauh darinya, tongkat tuanya bertumpu di tanah, matanya yang sudah dimakan usia tetap tajam mengamati setiap sudut halaman.Murid Ketiga duduk di atas batu di pinggir halaman, tangan kanannya yang penuh bekas hitam tergeletak di pangkuan, tidak bisa terangkat lebih tinggi dari bahu. Ia menonton dengan senyum tipis, s
Halaman latihan Sekte Bulan Sabit masih basah oleh embun ketika Duan Wuya tiba, jauh sebelum matahari sepenuhnya naik dari balik punggung gunung. Tidak ada murid lain di sana. Hanya suara burung yang baru bangun dan angin pagi yang menggigit kulit lengannya yang masih terbalut perban tipis, bekas luka dari pertarungan melawan sepupunya sendiri di reruntuhan kuil tua.Ia berdiri di tengah halaman, pedang panjang tergenggam di tangan kanan. Bilahnya masih bersih, terawat, meski gagangnya sudah menunjukkan bekas telapak tangan yang menggenggamnya berkali-kali dalam pertarungan sungguhan, bukan sekadar latihan.Ia menarik napas. Perlahan. Mengingat kata-kata yang diajarkan padanya, bukan oleh Shen Wuyou secara langsung, melainkan oleh Yue Chen yang mengulanginya dari mulut gurunya sendiri.Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang.Kaki Duan Wuya bergeser, membentuk kuda-kuda yang sudah ia kenal luar kepala. Ia mulai bergerak, pedangny
Paviliun utama Sekte Bulan Sabit masih menyimpan bau obat dan asap dupa yang tidak pernah benar-benar hilang sejak hari-hari pertempuran. Shen Wuyou berdiri di depan lemari kayu tua, tangannya menyentuh kain jubah putih yang tergantung di sana, bersih, belum pernah dipakai. Ia melepas jubah yang membalut tubuhnya sejak malam di puncak gunung, jubah yang ujungnya robek dan nodanya sudah mengering menjadi cokelat tua di beberapa titik.Untuk pertama kalinya sejak bab 153, ia berganti pakaian.Jarinya menelusuri robekan di ujung kain lama itu sebelum melipatnya. Tidak buru-buru. Setiap lipatan dilakukan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyusun sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kain. Ia membuka laci bawah lemari, tempat biasanya kosong, dan meletakkan jubah lama itu di sana. Ia menatapnya sejenak. Noda itu tidak hilang. Ia tidak berusaha menghilangkannya. Ia menutup laci, pelan, seperti menutup peti mati yang belum saatnya dikubur.
Pesan itu datang lewat seorang murid muda yang mengetuk pintu kamar Yue Chen saat matahari baru saja terbit, membawa selembar kain kecil bertuliskan satu kalimat tanpa tanda tangan: temui aku di lembah berangin barat. Yue Chen tidak bertanya siapa pengirimnya. Ia sudah tahu.Perjalanan menuju lembah itu memakan waktu separuh pagi, menyusuri jalur yang sudah lama tidak ia lewati sejak tahun-tahun awal ia berlatih sendirian di sana. Angin masih berembus dari arah barat seperti dulu, membawa aroma tanah kering bercampur wangi rerumputan liar. Batu-batu besar yang dulu menjadi saksi pertarungan pertamanya masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu tidak menyentuh mereka sedikit pun.Su Meiyin sudah menunggu di tengah lembah ketika Yue Chen tiba, berdiri tegak dengan jubah abu kebiruan yang berkibar pelan tertiup angin. Sepuluh jarinya terentang di sisi tubuhnya, namun Benang Emas tidak aktif, tidak ada kilau perak tak terlihat yang biasa menyelimuti gera







