MasukTongkat Nenek Yue sudah disampirkan di batu. Di tangannya kini tergenggam sebatang pedang tipis, pedang yang belum pernah sekali pun dilihat Yue Chen dikeluarkan oleh neneknya, bahkan dalam ingatannya yang paling jauh sekalipun.
Obor pertama musuh muncul di ujung lembah. Lalu dua. Lalu sepuluh. Lalu ratusan.
Cahaya kuning kejinggaan memenuhi mulut lembah seperti lahar yang mengalir, dan dalam cahaya itu, hitam dan berduyun-duyun bagaikan ombak yang tak pernah berakhir, pasukan kekaisaran tiba.
Yue Chen tidak bergerak.
"Chen-er!" Suara neneknya datang tanpa menoleh. "Masuk ke Celah. Sekarang."
"Aku tidak akan..."
"Sekarang, Yue Chen."
Bukan nama panggilan yang biasa digunakan, melainkan nama lengkapnya. Dua kata yang jarang sekali diucapkan neneknya, kecuali dalam momen yang sangat serius.
Yue Chen meremas gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemudian, ia menghunus pedangnya dan melangkah maju, bukan ke arah celah, melainkan ke arah neneknya.
"Aku ikut bertarung," katanya dengan suara yang tidak gemetar, meski seluruh tubuhnya ingin gemetar. "Jangan larang aku."
Nenek Yue menoleh untuk pertama kalinya. Matanya menatap cucunya, dan dalam sekilas pandangan itu, yang berlangsung tidak lebih dari separuh tarikan napas, terjadi sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, antara seorang nenek yang sudah memahami cara dunia bekerja dan seorang cucu yang baru mulai belajar memahaminya.
Kemudian, Nenek Yue mengangguk.
"Di sebelah kiriku," katanya. "Dan tetap di sebelah kiriku."
Yue Chen mengambil posisinya. Di kepalanya, sebuah kilas balik muncul tanpa diminta, bukan dari malam ini, melainkan dari bertahun-tahun silam, sebelum ia cukup dewasa untuk memahaminya. Sebuah nama yang pernah didengarnya dari bisik-bisik para pengawal istana, Jari Giok di Puncak Awan. Dahulu ia mengira itu nama seorang dewi. Sekarang, melihat pergelangan tangan neneknya memegang pedang dengan cara yang tidak mungkin dilupakan oleh otot mana pun, ia baru menyadari kebenarannya. Itu bukan dewi. Itu adalah neneknya sendiri, empat puluh tahun silam, sebelum dunia hanya mengenalnya sebagai istri seorang pangeran.
Di depan mereka, pasukan kekaisaran telah memenuhi seluruh lebar lembah, lautan manusia berbaju hitam dengan obor dan pedang, bergerak mendekat dalam formasi yang perlahan terbuka. Jenderal Liu Tianming terlihat di tengah barisan pasukan berkuda, siluetnya tegak dan tidak terburu-buru, seperti seseorang yang sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang hasil akhirnya sudah ia ketahui sejak awal.
Lao Wei menggerakkan pedangnya perlahan, pemanasan terakhir sebelum pertempuran. "Formasi?"
"Baris," kata Nenek Yue. "Satu baris. Tutup mulut celah."
Delapan orang berbaris melintang di mulut celah yang sempit, hampir persis selebar tubuh mereka berjajar. Di belakang mereka, di dalam celah, rombongan lain yang sudah tidak sanggup berlari lagi duduk dan berbaring, berusaha mendapatkan kembali napas mereka.
Pasukan kekaisaran memperlambat langkah begitu melihat formasi kecil itu.
Seorang perwira berteriak, "Berhenti! Tahan!"
Lalu terdengar suara yang lebih berwibawa, dari atas punggung kuda, "Jangan habiskan energi. Mereka sudah terperangkap. Beri mereka kesempatan untuk menyerah."
Yue Chen kini bisa melihat Jenderal Liu Tianming dengan jelas. Wajahnya memang seperti yang pernah ia dengar dalam cerita, wajah seorang komandan yang tidak mengenal kata "gagal". Tatapannya melewati barisan kecil mereka seolah-olah mereka sudah tiada, sudah hanya menjadi catatan dalam laporan pascapertempuran.
"Yue Lingxian!" Suara Liu Tianming keras dan jelas, membawa nada resmi yang dingin. "Istri mantan Pangeran Ketiga Kerajaan Zhenlong, yang dinyatakan sebagai pemberontak oleh Dekrit Kaisar Nomor Tujuh Sembilan Tiga. Kau dan rombonganmu diminta menyerahkan diri. Serahkan gulungan sutra yang kaubawa, dan perlakuan yang layak akan dijamin."
Keheningan.
Nenek Yue tidak segera menjawab. Ia memandang pasukan di depannya, ratusan manusia dengan obor dan senjata, dengan wajah yang sebagian besar masih muda, yang mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa mereka berada di sini. Ia memandang Liu Tianming di atas kudanya, seorang prajurit yang jujur, yang hanya menjalankan perintah, yang dalam keadaan lain mungkin bisa menjadi seseorang yang ia hormati.
Kemudian, ia berbicara, bukan dengan suara keras, melainkan dengan suara yang entah bagaimana terdengar jelas di seluruh mulut lembah, menembus suara angin, api obor, dan derap sisa kuda yang gelisah.
"Liu Tianming. Aku mengenalmu ketika kau masih menjadi kapten muda di Gerbang Timur. Kau adalah prajurit yang jujur." Suaranya tidak mengandung kebanggaan maupun amarah, hanya pernyataan fakta. "Namun, apa yang kaubawa malam ini bukanlah keadilan. Ini adalah perburuan terhadap orang-orang yang tidak memiliki cara untuk melawan kekuasaan yang sedang gila."
Jenderal Liu tidak bergerak, tetapi bahunya sedikit menegang.
"Aku tidak menjalankan keadilan ataupun ketidakadilan," jawabnya, lebih pelan daripada sebelumnya. "Aku menjalankan perintah."
"Ya." Nenek Yue mengangguk seolah memahami betul. "Itulah bedanya orang baik yang digunakan untuk tujuan jahat dengan orang jahat itu sendiri. Keduanya menghasilkan akibat yang sama, tetapi hanya salah satu yang bisa tidur nyenyak pada malam hari."
Sunyi sejenak.
Liu Tianming menarik napas. "Ini pertanyaan terakhirku. Apakah kalian akan menyerah?"
Nenek Yue mengangkat pedangnya.
Gerakannya, meski tidak lebih dari sekadar mengangkat sebilah pedang, tampak sangat indah. Pergelangan tangan yang sudah puluhan tahun tidak melakukan gerakan semacam ini, tetapi otot-otot di baliknya mengingat segala sesuatu dengan sempurna, seperti sungai yang mengingat jalannya sendiri meski telah lama membeku. Pedang tipis itu memantulkan cahaya obor sekilas, seperti bintang kecil yang tersesat, seperti jari giok yang dahulu pernah menuliskan namanya di langit dunia persilatan, empat dekade lalu, sebelum semua ini terjadi.
Ujung pedangnya berhenti tepat sejajar dengan matanya sendiri, bukan mengarah ke musuh, melainkan lurus ke atas, sebuah kuda-kuda pembuka yang dikenal di kalangan tua dunia persilatan sebagai Menatap Bulan yang Hilang, jurus pertama dari kitab pusaka Sekte Bulan Sabit yang hanya boleh diperagakan oleh mereka yang telah menuntaskan tujuh tahun latihan dasar. Bukan jurus untuk menyerang lebih dulu. Jurus untuk menanti, sampai lawan sendiri yang menciptakan celah.
"Tidak," katanya dengan tenang.
Dan pertempuran pun dimulai.
Satu bulan telah berlalu sejak malam di puncak gunung itu, sejak Zhao Kuang jatuh berlutut dengan tubuh kosong tanpa qi. Malam ini, bulan kembali penuh, bulat sempurna, menggantung rendah di atas Sekte Bulan Sabit seperti cermin raksasa yang menuangkan cahaya putih ke setiap genting, setiap batu, setiap wajah yang menengadah menatapnya.Di halaman latihan, Yue Chen berdiri sendirian. Tidak ada murid lain di sekitarnya, tidak ada murid yang perlu ia lindungi, tidak ada lawan yang perlu ia hadapi. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin mengisi dadanya perlahan, tanpa dipaksa. Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang. Kalimat itu masih terngiang di kepalanya, bahkan setelah bertahun-tahun.Ia mulai bergerak. Tujuh Langit Awan, lalu berpindah ke Penjepit Giok, dua jari terentang, cahaya giok tipis berkedip di ujungnya, memantulkan sinar bulan hingga tampak seperti embun yang menyala. Tidak ada tekanan dalam gerakannya malam it
Sore itu langit di atas Sekte Bulan Sabit berwarna jingga pudar, seperti kain yang sudah terlalu lama dijemur dan warnanya mulai luntur di tepi. Yue Chen berjalan menyusuri halaman dalam sendirian, langkahnya pelan, tidak tergesa seperti biasanya. Reruntuhan bekas serangan lama masih tersisa di beberapa sudut, batu bata yang belum diganti, retakan di lantai yang belum ditambal. Tapi hari itu, matanya tertuju pada satu tempat saja: deretan makam di ujung halaman.Batu nisan yang terbelah masih berdiri di sana, separuh saja, seperti gigi yang patah. Yue Chen berhenti di depannya. Ia berjongkok, ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang kasar. Ada nama di sana, tapi hanya separuh yang tersisa. Huruf-huruf terakhir hilang bersama serpihan yang terlempar entah ke mana ketika pedang Zhao Kuang menebasnya beberapa hari lalu.Ia menelusuri garis retakan dengan jari telunjuk, pelan, seperti membaca sesuatu yang tidak lagi bisa dibaca.Langkah kaki terdeng
Pagi itu halaman latihan Sekte Bulan Sabit dipenuhi orang lebih banyak dari biasanya. Bukan karena diumumkan. Kabar semacam ini menyebar sendiri, dari satu murid ke murid lain, dari satu bisik ke bisik berikutnya, sampai ketika matahari baru separuh naik dari balik punggung gunung, hampir seluruh penghuni sekte sudah berdiri berjajar di tepi halaman.Murid-murid muda berdiri di barisan depan, mata mereka berbinar penasaran. Di belakang mereka, murid-murid senior berdiri dengan tangan terlipat, wajah tenang namun penuh perhatian. Lan Feiyan berdiri di dekat pilar utama, jubah birunya berkibar pelan tertiup angin pagi. Tetua Zhang berdiri tidak jauh darinya, tongkat tuanya bertumpu di tanah, matanya yang sudah dimakan usia tetap tajam mengamati setiap sudut halaman.Murid Ketiga duduk di atas batu di pinggir halaman, tangan kanannya yang penuh bekas hitam tergeletak di pangkuan, tidak bisa terangkat lebih tinggi dari bahu. Ia menonton dengan senyum tipis, s
Halaman latihan Sekte Bulan Sabit masih basah oleh embun ketika Duan Wuya tiba, jauh sebelum matahari sepenuhnya naik dari balik punggung gunung. Tidak ada murid lain di sana. Hanya suara burung yang baru bangun dan angin pagi yang menggigit kulit lengannya yang masih terbalut perban tipis, bekas luka dari pertarungan melawan sepupunya sendiri di reruntuhan kuil tua.Ia berdiri di tengah halaman, pedang panjang tergenggam di tangan kanan. Bilahnya masih bersih, terawat, meski gagangnya sudah menunjukkan bekas telapak tangan yang menggenggamnya berkali-kali dalam pertarungan sungguhan, bukan sekadar latihan.Ia menarik napas. Perlahan. Mengingat kata-kata yang diajarkan padanya, bukan oleh Shen Wuyou secara langsung, melainkan oleh Yue Chen yang mengulanginya dari mulut gurunya sendiri.Napas bukan diambil, tapi diberi ruang untuk datang.Kaki Duan Wuya bergeser, membentuk kuda-kuda yang sudah ia kenal luar kepala. Ia mulai bergerak, pedangny
Paviliun utama Sekte Bulan Sabit masih menyimpan bau obat dan asap dupa yang tidak pernah benar-benar hilang sejak hari-hari pertempuran. Shen Wuyou berdiri di depan lemari kayu tua, tangannya menyentuh kain jubah putih yang tergantung di sana, bersih, belum pernah dipakai. Ia melepas jubah yang membalut tubuhnya sejak malam di puncak gunung, jubah yang ujungnya robek dan nodanya sudah mengering menjadi cokelat tua di beberapa titik.Untuk pertama kalinya sejak bab 153, ia berganti pakaian.Jarinya menelusuri robekan di ujung kain lama itu sebelum melipatnya. Tidak buru-buru. Setiap lipatan dilakukan dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menyusun sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kain. Ia membuka laci bawah lemari, tempat biasanya kosong, dan meletakkan jubah lama itu di sana. Ia menatapnya sejenak. Noda itu tidak hilang. Ia tidak berusaha menghilangkannya. Ia menutup laci, pelan, seperti menutup peti mati yang belum saatnya dikubur.
Pesan itu datang lewat seorang murid muda yang mengetuk pintu kamar Yue Chen saat matahari baru saja terbit, membawa selembar kain kecil bertuliskan satu kalimat tanpa tanda tangan: temui aku di lembah berangin barat. Yue Chen tidak bertanya siapa pengirimnya. Ia sudah tahu.Perjalanan menuju lembah itu memakan waktu separuh pagi, menyusuri jalur yang sudah lama tidak ia lewati sejak tahun-tahun awal ia berlatih sendirian di sana. Angin masih berembus dari arah barat seperti dulu, membawa aroma tanah kering bercampur wangi rerumputan liar. Batu-batu besar yang dulu menjadi saksi pertarungan pertamanya masih berdiri di tempat yang sama, seolah waktu tidak menyentuh mereka sedikit pun.Su Meiyin sudah menunggu di tengah lembah ketika Yue Chen tiba, berdiri tegak dengan jubah abu kebiruan yang berkibar pelan tertiup angin. Sepuluh jarinya terentang di sisi tubuhnya, namun Benang Emas tidak aktif, tidak ada kilau perak tak terlihat yang biasa menyelimuti gera







