Prajurit besar itu menerjang lebih dahulu. Langkahnya berat, namun sama sekali tidak lambat. Pedangnya, lebih besar daripada ukuran standar, terayun dalam satu sabetan horizontal yang ditujukan untuk membelah tubuh Yue Chen menjadi dua.Yue Chen menghunus pedang latihannya, murni karena refleks. Bukan keberanian, bukan pula perhitungan, hanya kebiasaan yang telah tertanam ratusan kali di halaman belakang istana, jauh sebelum semua ini terjadi. Perguruannya mengajarkan satu hal sejak awal: tangan boleh gemetar, tetapi gerakan tidak boleh berhenti.Baja beradu baja.Getaran menjalar ke pergelangan tangan Yue Chen seperti disambar petir, hanya saja petir cuma menyentuh sekejap, sedangkan getaran ini terus mengalir, dari pergelangan ke siku, dari siku ke bahu, dari bahu ke tulang belakang. Ia melangkah mundur, dua kali, tiga kali. Batu di bawah kakinya licin oleh embun dan lumut. Kakinya tersandung, tubuhnya terhuyung, punggungnya membentur dinding batu di belakangnya.Satu, dua, tiga.Ia
Last Updated : 2026-07-12 Read more