"Nggak usah, aku ikut saja." Aldrin meletakkan sumpit di tangannya, lalu menarik selembar tisu untuk menyeka mulut."Tapi mereka jelas datang buat cari gara-gara sama kamu. Mereka itu preman. Kalau sudah turun tangan, benar-benar kejam ...." Bimo buru-buru membujuk."Bukan cuma kejam. Fajar itu ...." Leman kembali berbisik."Cepat sedikit! Jangan bikin kami nunggu lama. Kami masih ada urusan lain. Cepat keluar, beresin urusan ini, habis itu kami lanjut kerja." Fajar berdiri di depan pintu, memandang Aldrin sambil berulang kali mengetukkan jarinya ke dinding."Sudah, nggak usah dipikirkan. Kalau memang harus dihadapi, ya hadapi saja. Aku keluar sebentar, habis ini juga balik."Aldrin baru saja hendak berdiri, tetapi tangannya langsung dicengkeram erat oleh Bimo. Bimo menatapnya dengan wajah serius. "Aku ikut."Aldrin tertegun sesaat, lalu melepaskan tangan Bimo. "Nggak usah, minggir. Yang ada malah aku makin repot, harus melindungi kamu segala."Di depan tatapan semua orang, Aldrin berj
Read more