Tatapan itu bukan lagi sekadar rasa penasaran, melainkan rasa hormat yang disertai ketakutan yang mendalam.Bahkan orang sekejam Fajar saja sampai harus membungkuk-bungkuk di depan Aldrin, bahkan rela menghajar orang yang memberinya uang. Sebenarnya siapa sosok ini?"Sudah, bubar semuanya." Aldrin berdiri, menepuk-nepuk debu di tubuhnya, seolah yang baru saja terjadi hanyalah mengusir segerombolan lalat."Bimo, ajak yang lain untuk pindahin barang. Suite yang paling besar sisakan untukku. Kalian bebas pilih kamar masing-masing.""Siap, Pak!" Kini, punggung Bimo tegak lurus. Suara teriakannya menggema nyaring. Mengikuti bos seperti ini benar-benar luar biasa!....Sementara itu, beberapa kilometer dari lokasi proyek, di dalam sebuah Audi yang melaju kencang, Adjie masih belum bisa menenangkan diri. Separuh wajahnya bengkak parah. Sesekali dia melirik kaca spion, memastikan tidak ada yang mengejar sebelum akhirnya berani mengurangi kecepatan.Makin dipikirkan, dia makin merasa ada yang t
Read more