Share

Alasan Rekha Cuek

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-07-26 06:37:51

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka, sebuah mobil SUV hitam mengikuti dalam jarak aman. Di balik kemudi, cengkeraman Rekha pada setir mobilnya nyaris membuat material kulit itu robek. Napasnya memburu kasar.

Perasaan sok acuh dan habis manis sepah dibuang yang ia ciptakan sebagai tameng egonya kini berbalik mencekiknya hidup-hidup.

Jika Naya hamil, itu adalah darah dagingnya. Miliknya. Bukan milik Dewa. Ego Rekha meronta liar, menolak keras membiarkan benihnya diakui oleh pria lain, meski
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Rencana Licik Membuat Naya 'Keguguran'.

    Kebohongan adalah lubang tak berdasar. Sekali kau melompat masuk, kau harus terus menggali untuk menyembunyikan dirimu. Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, Dewa menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan gemetar. Ia menenggak cairan berwarna amber itu dalam satu kedipan mata, membiarkan rasa panas membakar kerongkongannya. Rasa sakit di rahangnya akibat pukulan Rekha masih berdenyut hebat, tapi rasa panik di kepalanya jauh lebih menyiksa. Ucapan spontannya pada sang ibu telah memicu reaksi berantai yang mengerikan. Bu Widya, dengan antusiasme yang meledak-ledak, langsung mengumumkan kabar "kehamilan" Naya kepada ayah, sang patriark keluarga. Tuan Besar yang tadinya siap mendepak Dewa, kini menjanjikan sebuah pesta perayaan besar-besaran akhir pekan ini untuk menyambut calon pewaris baru. Dewa tertawa sumbang, menatap pantulan wajahnya yang memar di cermin. Pesta perayaan. Bagaimana ia bisa merayakan sesuatu yang tidak pernah ada? Naya tidak hamil. Rahim wanita it

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Berani-berani Sentuh Naya!

    Bunyi tulang yang beradu dengan daging terdengar memuakkan, bersahut-sahutan dengan napas menderu dari kedua pria itu. Dewa yang terdesak di lantai mencoba memberontak, namun tenaga Rekha yang didorong oleh amarah murni dan keputusasaan jauh melampaui kemampuan fisik Dewa. Darah segar menetes dari sudut bibir Dewa, menodai kemeja mahalnya. Ia terbatuk, tertawa serak memamerkan giginya yang memerah. "Bunuh... bunuh saja aku, Rekha," tantang Dewa dengan napas tersengal. "Kalau aku mati, semua orang akan tahu kamu meniduri istri saudaramu sendiri. Kau akan membusuk di penjara, dan Naya... Naya akan dicap sebagai pelacur murahan di keluarga ini!" Tangan Rekha yang terangkat di udara, bersiap mendaratkan pukulan maut berikutnya, seketika membeku. Kata "pelacur" yang dialamatkan pada Naya memicu kilat kebencian yang teramat pekat di mata kelamnya. Rekha menurunkan kepalannya, beralih mencengkeram kerah kemeja Dewa dengan kedua tangan, menarik tubuh pria itu hingga wajah mereka hanya berj

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dicekik Dewa!

    Sementara itu.... Udara di ruang periksa Dokter Andari terasa sedingin ruang mayat. Bau antiseptik yang tajam menusuk penciuman Naya, berpadu dengan rasa mual yang sedari tadi meremas lambungnya tanpa ampun. Di atas ranjang periksa, Naya memejamkan mata rapat-rapat saat gel dingin dioleskan ke atas perut datarnya. Layar monitor USG menyala, menampilkan bayangan hitam putih yang berkedip di tengah ruangan remang-remang. Dewa berdiri di sisinya. Tangan laki-laki itu menggenggam jemari Naya begitu erat—terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Jika bagi sang dokter genggaman itu terlihat seperti bentuk dukungan emosional dari suami yang penuh kasih, bagi Naya, entah mengapa itu terasa seperti cengkeraman rantai besi yang mengunci lehernya secara perlahan. Hening yang menyiksa itu akhirnya terpecah oleh helaan napas Dokter Andari. "Maaf, Pak Dewa. Tidak ada kantung kehamilan di sini." Dokter itu menurunkan alatnya. "Ibu Naya sama sekali tidak hamil." Satu kalimat itu b

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Alasan Rekha Cuek

    Tanpa mereka sadari, di belakang mereka, sebuah mobil SUV hitam mengikuti dalam jarak aman. Di balik kemudi, cengkeraman Rekha pada setir mobilnya nyaris membuat material kulit itu robek. Napasnya memburu kasar. Perasaan sok acuh dan habis manis sepah dibuang yang ia ciptakan sebagai tameng egonya kini berbalik mencekiknya hidup-hidup. Jika Naya hamil, itu adalah darah dagingnya. Miliknya. Bukan milik Dewa. Ego Rekha meronta liar, menolak keras membiarkan benihnya diakui oleh pria lain, meskipun faktanya dialah pengecut yang pertama kali berlari dari tanggung jawab. Suara dering telepon yang tersambung ke dashboard mobil memecah keheningan yang menyesakkan dada. Layar sentuh itu berkedip, menampilkan nama 'Bima'—asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling setia. Dengan rahang mengeras, Rekha menekan tombol terima di kemudinya. "Bicara," desis Rekha dengan suara serak yang memendam amarah. "Pak Rekha, saya sudah meretas sebagian CCTV rumah sakit sesuai perintah Anda. Mob

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Hamil?!

    Tiga hari berturut-turut Naya merasa seperti hidup di ruang hampa. Sikap Rekha yang mendadak dingin dan terus menghindar membuat hatinya hancur. Perasaan habis manis sepah dibuang itu menggerogoti pikirannya setiap malam, memicu stres yang tanpa sadar mulai menghantam kondisi fisiknya. Puncaknya terjadi pagi itu, di ruang makan yang bising oleh obrolan dan dentingan sendok. Naya duduk dengan wajah pucat pasi. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Rekha di seberang meja, tapi laki-laki itu hanya fokus pada ponsel dan secangkir kopinya, seolah Naya sama sekali tidak eksis. Rasa sesak di dada Naya perlahan berubah menjadi gejolak aneh di perutnya. Asam lambungnya naik, menekan kerongkongan. "Naya, kok diam saja? Ayo dimakan rotinya," tegur Karina, ipar Naya yang terus mencari kesalahan Naya sebagai bahan hiburan pribadi. Belum sempat Naya menjawab, perutnya bergejolak hebat. Ia refleks membekap mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak panik. "Huek!" Kursi kayu itu be

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Burungnya Tak Berfungsi

    "Suami? Dewa bahkan nggak peduli padaku, Mas! Dia mengabaikan aku!"Naya menjawab dengan suara bergetar, meski Rekha terus bersikap dingin, entah kenapa dia malah ingin mendapatkan perhatian pria itu, Naya hanya ingin mendapatkan tatapan hangat dari Rekha, tapi, Rekha malah menjawab.... "Kalau begitu urus suamimu yang nggak berguna itu, perbaiki pernikahanmu, dan berhenti mengemis perhatian dariku."Dan lebih kejamnya lagi, tanpa menunggu balasan, Rekha membalikkan badan. Tubuh jangkung nan atletisnya berjalan menjauh tanpa menoleh lagi, meninggalkan Naya yang mematung dengan hati hancur lebur berserakan di atas lantai marmer."Mas, kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah? aku salah apa?"Dengan langkah terseok-seok, Naya pun pergi ke kamarnya, tapi sayang, belum genap Naya menyeka air matanya yang jatuh menahan penghinaan, ponsel di saku gaunnya bergetar hebat. Nama Siska, sahabat dekatnya, berkedip di layar. "Halo, Sis?" sapa Naya dengan suara parau. Naya mengenal Siska sejak kuliah, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status