Mata Davina masih terbuka lebar menatap kegelapan kamar. Jarum jam di dinding terus berdetak, menandakan waktu yang kian melarut, namun kantuk tak kunjung datang menghampirinya. Hatinya terombang-ambing oleh gelisah yang tak berkesudahan. Dengan perlahan, jemarinya bergerak turun, mengusap lembut perutnya yang masih terasa rata. Di dalam sana, ada benih kehidupan yang mulai tumbuh—sebuah kenyataan yang terasa seperti keajaiban sekaligus beban yang menakutkan. Tiba-tiba, pendar cahaya dari layar ponsel di atas nakas memecah kegelapan. Benda persegi itu bergetar pelan. Nama Trian menyala di sana. Davina menarik napas panjang untuk menetralkan suaranya, lalu menggeser tombol hijau. "Kamu belum tidur sayang ?" Suara Trian terdengar begitu lembut di seberang telepon, memecah keheningan malam. "Belum, Mas. Ada apa?" sahut Davina lirih. "Besok..." Trian menggantung kalimatnya sejenak. "Iya, Mas. Kenapa ?" jantung Davina berdegup kencang, menunggu kata-kata berikutnya dengan cem
Last Updated : 2026-08-30 Read more