"Ah, nggak apa-apa, Pak. Kami langsung pulang saja..." tolak Davina halus, berusaha menjaga jarak dan menepis tawaran tersebut meski hatinya bergemuruh hebat. Kamari menatap kecewa pada sang mama. Bibirnya mengerucut, lalu jemari kecilnya mencengkeram ujung jas mewah Trian dengan erat. "Nggak mau. Mayi mau sama Om Ian..." rengek anak itu dengan suara manja yang langsung meluluhkan pertahanan siapa saja. "Mayi... dengerin Mama. Nggak boleh memaksa, sayang," tegur Davina lembut namun tegas. "Tapi, Mayi kan nggak nakal, Mama..." protes Kamari dengan mata berkaca-kaca, membuat Trian semakin tidak tega. "Sebentar saja, Davina. Boleh ya? Hanya sebentar," Trian membujuk dengan nada rendah dan penuh harap. Melihat tatapan memohon dari putrinya serta sorot mata Trian yang sarat akan ketulusan, Davina akhirnya menyerah. Ia menghela napas pasrah. Tentu saja Biru, yang sedari tadi menjadi saksi bisu kecanggungan mereka, langsung membaca situasi. Dengan sigap, asisten pribadi itu me
Last Updated : 2026-09-01 Read more