"Maksud kamu apa, Biru?" Nada bicara Trian memutar tajam lewat pendar speaker telepon, menembus keheningan kamar dengan kehangatan amarah yang sulit disembunyikan. Penekanan pada kata-kata itu begitu kentara, syarat akan cemburu dan rasa terluka yang meletup seketika. Seketika Biru tersadar. Hantaman suara Trian bagai menyiramkan air es ke kepalanya, memaksa nalurinya kembali pada kenyataan bahwa kalimat yang baru saja meluncur dari bibirnya adalah sebuah kesalahan fatal. Keberanian impulsif yang sempat menguasai lidahnya menguap tanpa sisa, digantikan oleh kesadaran akan hierarki dan batas posisi yang sebenarnya. "Maksud saya... sebagai suami Mbak Davina dalam kontrak ini, biar saya saja yang bantu merawat hari ini, Pak. Saya hanya izin setengah hari saja," potong Biru secepat mungkin. Ia berusaha menata kembali nada suaranya agar terdengar netral, formal, dan penuh rasa hormat seperti biasa, mencoba menambal retak
Última atualização : 2026-09-22 Ler mais