Malam harinya, keheningan menyelimuti kamar tidur utama. Pendar lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan dua insan yang berdiri berhadapan di samping ranjang—tempat yang semalam menjadi saksi bisu penyatuan mereka. Biru memandang Davina dengan tatapan yang begitu dalam, lembut, dan penuh penghormatan. Ia meraih kedua tangan Davina, menggenggam jemari yang terasa dingin itu dengan erat. "Davina..." panggil Biru, suaranya terdengar amat tenang namun bergetar pelan oleh gejolak emosi di dadanya. Davina mendongak, menatap wajah Biru tanpa kacamata. "Iya, Biru?" "Sesuai dengan kesepakatan ," Biru menarik napas panjang, menetralkan dilema di dalam dadanya. "Malam ini, di hadapan Tuhan yang Maha Menyaksikan, saya menjatuhkan talak satu kepadamu, Davina binti Ahmad. Kamu bukan lagi istri saya." Kata-kata itu meluncur dengan tegas. Seketika itu pula, air mata Davina menetes me
آخر تحديث : 2026-09-27 اقرأ المزيد