Kedua tangan Livy memelukku dengan sukarela. Dia memejamkan mata, menanti serangan dariku. Namun, ketika aku menatap wajahnya yang masih muda dan menyiratkan kesan lugu itu dengan jelas, aku mendadak tersadar. Dia hanya seorang mahasiswa, aku tidak boleh melakukan perbuatan bejat ini!Jadi, aku segera mengenakan celanaku kembali dan beranjak dari tepi ranjang Livy.Dia menatapku dengan penuh kekecewaan. "Ada apa, Paman? Apa terjadi sesuatu?"Aku menggelengkan kepala dan berkata dengan nada penuh penekanan, "Livy, bagaimanapun juga, aku jauh lebih tua darimu. Kita benar-benar nggak boleh melakukan hal seperti ini.""Kalau ini sampai terjadi, bagaimana aku harus menghadapi anakku nanti?"Mendengar keraguanku, wajah Livy menyiratkan rasa tidak rela. Dia masih ingin melanjutkan, tetapi aku sudah bertekad untuk menyudahinya. Aku berjalan keluar kamar dalam diam dan menutup pintunya.Begitu keluar, aku mendapati pintu kamar anakku sudah terbuka. Aku melongok ke dalam, tetapi anakku tid
続きを読む