ANMELDENSebelum melangkah pergi, Livy yang berdiri di depan pintu mendadak membalikkan badan dan menatapku. "Paman Willy.""Kalau nanti masih ada kesempatan, apa Paman akan menyesal karena sudah menolakku hari ini?"Sinar matahari senja menembus masuk melalui jendela lorong tangga. Sorot matanya tampak begitu rumit hingga membuatku tidak berani menatapnya secara langsung.Aku terdiam cukup lama, sebelum akhirnya hanya melontarkan satu kalimat. "Setelah kamu dewasa nanti, mungkin kamu akan menyadari kalau apa yang kamu sukai saat ini bukan cinta yang sesungguhnya."Ujung mata Livy seketika memerah. Dia tidak berbicara lagi, lalu berbalik dan pergi.Setelah kepergian Livy, rumah ini mendadak terasa kosong. Di meja makan, kini hanya ada piring dan sendokku. Di samping sofa pun, tidak ada lagi gadis yang selalu suka mencuri pandang ke arahku. Namun, hatiku tidak merasa lega sedikit pun. Karena yang benar-benar pergi bukan hanya Livy, melainkan juga rasa kepercayaan Jemima kepadaku.Selama
"Apa kamu mengerti?" "Ada hal yang sekali saja dilakukan, kita nggak akan pernah bisa kembali lagi."Livy menundukkan kepalanya, air matanya menetes satu per satu di atas selimut. Di ruang tamu, kini hanya menyisakan suara jarum jam dinding.Setelah sekian lama, dia tiba-tiba berkata dengan lirih, "Paman Willy, bagaimana kalau Jemima nggak akan pernah memaafkanmu lagi?"Aku terdiam. Karena aku sendiri pun tidak tahu apa jawabannya.Keesokan paginya, setelah hampir tidak tidur semalaman, aku langsung pergi ke kampus Jemima begitu fajar menyingsing. Namun, dosen pembimbingnya bilang bahwa Jemima sama sekali tidak kembali ke asrama semalam.Pada detik itu juga, otakku mendadak kosong dan berdengung hebat. Aku memaksa diriku untuk tetap tenang, lalu menghubungi beberapa teman dekatnya. Hingga menjelang siang, seorang mahasiswi baru memberi tahuku dengan sangat hati-hati."Paman, semalam sepertinya Jemima menginap di hotel dekat kampus ...."Aku bergegas pergi ke sana.Saat aku menemu
Aku terpaksa harus memakaikan pakaian Livy dulu. Dia berkata, "Paman Willy, jangan terlalu cemas. Jemima pasti akan kembali, jangan khawatir."Aku hanya bergumam mengiyakan. Namun, perasaanku saat ini bagaikan kereta yang tergantung di tengah tebing. Sangat waswas dan gelisah.Begitu selesai memakaikan baju Livy dengan susah payah, aku segera keluar lagi untuk mencari anakku.Saat aku bergegas keluar dari kompleks perumahan, hujan gerimis mulai turun. Angin malam terasa sangat dingin. Aku berdiri di tepi jalan sambil terus menghubungi ponsel Jemima. Namun, hanya terdengar suara operator yang dingin."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Aku menggenggam ponselku, hatiku seakan-akan perlahan-lahan tenggelam. Sorot lampu mobil di jalanan melintas di depan mataku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar akan kehilangan anakku satu-satunya ini.Selama bertahun-tahun, aku membesarkannya seorang diri. Saat dia demam tinggi waktu kecil, aku menggendongnya sambil berlari mel
Aku ini pria dewasa, bagaimana bisa aku membantu seorang gadis untuk mandi?"Jangan, nggak bisa! Mana mungkin aku membantumu mandi? Bukannya nanti akan kelihatan semuanya?"Livy tiba-tiba tersenyum ke arahku. "Kelihatan oleh Paman Willy juga nggak apa-apa, aku nggak keberatan. Lagi pula, bukannya Paman sudah pernah melihat semuanya ...."Bagaikan digerakkan oleh kekuatan gaib, saat menatap tubuh seksi Livy, hasrat yang tak terbatas kembali melonjak dalam diriku. "Ka-kalau begitu, baiklah. Tapi Paman cuma akan menggosok punggungmu saja, Paman nggak akan melihat bagian depan tubuhmu."Livy mengangguk setuju.Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Livy perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya. Menatap punggungnya yang putih mulus, jakunku terus naik-turun karena menelan ludah. Aku mengulurkan tangan untuk membantunya menggosok punggung. Lewat telapak tanganku, sensasi halus dan kenyal terus terasa. Terlebih lagi, dari posisi ini, aku bisa melihat sekilas bagian dadanya yang montok dari a
Kedua tangan Livy memelukku dengan sukarela. Dia memejamkan mata, menanti serangan dariku. Namun, ketika aku menatap wajahnya yang masih muda dan menyiratkan kesan lugu itu dengan jelas, aku mendadak tersadar. Dia hanya seorang mahasiswa, aku tidak boleh melakukan perbuatan bejat ini!Jadi, aku segera mengenakan celanaku kembali dan beranjak dari tepi ranjang Livy.Dia menatapku dengan penuh kekecewaan. "Ada apa, Paman? Apa terjadi sesuatu?"Aku menggelengkan kepala dan berkata dengan nada penuh penekanan, "Livy, bagaimanapun juga, aku jauh lebih tua darimu. Kita benar-benar nggak boleh melakukan hal seperti ini.""Kalau ini sampai terjadi, bagaimana aku harus menghadapi anakku nanti?"Mendengar keraguanku, wajah Livy menyiratkan rasa tidak rela. Dia masih ingin melanjutkan, tetapi aku sudah bertekad untuk menyudahinya. Aku berjalan keluar kamar dalam diam dan menutup pintunya.Begitu keluar, aku mendapati pintu kamar anakku sudah terbuka. Aku melongok ke dalam, tetapi anakku tid
Livy menghirup aroma di celana dalamku itu, dengan wajah yang tampak begitu menikmati.Dia ... dia ternyata tertarik pada pakaian dalamku! Seketika aku teringat kejadian siang tadi, saat dia sengaja menyelinapkan tangannya ke dalam celanaku. Apakah saat itu dia memang punya niat tertentu? Aku, seorang pria tua yang sudah hidup hampir setengah abad, ternyata masih bisa memikat gadis muda berusia delapan belas tahun yang begitu menawan. Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bergairah.Tepat pada saat itu, Livy tiba-tiba memergokiku. Dia malah melambaikan tangan, memintaku masuk.Bagaikan kerasukan setan, aku menutup pintu lalu berjalan ke tepi ranjang Livy. Dia meletakkan pisang yang baru digunakannya ke atas meja nakas, aku bisa melihat lingkaran noda basah di permukaan benda itu.Dengan wajah merona kemerahan dan tampak malu-malu, Livy berkata, "Paman Willy, yang tadi ... Paman lihat semuanya?"Aku mengangguk. Gejolak hasrat yang hebat, mendadak membakar perut bawahku, memb







