Teilen

Bab 2

Richy
Sial, rasanya bahkan lebih nikmat daripada benar-benar melakukannya!

Setelah tubuhku rileks, aku memandangi noda kental yang tertinggal di pakaian dalam itu, dan tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hatiku.

Willy, Willy. Livy ini teman anakmu sendiri, seorang gadis remaja yang baru berusia delapan belas tahun.

Bagaimana bisa aku melakukan perbuatan sekotor ini? Jika sampai ketahuan oleh anakku, runtuh sudah citraku sebagai seorang ayah.

Namun, hal yang sama sekali tidak kuduga adalah keesokan harinya, Livy kembali mengenakan pakaian dalam tersebut.

Dia berkata, "Aku tiba-tiba ke sini dan nggak bawa baju ganti. Jadi terpaksa pakai ini dulu untuk sehari."

Melihatnya mengenakan pakaian yang bernoda cairan maniku, batinku justru merasakan sedikit kepuasan yang aneh.

Menyadari betapa bejatnya pikiranku, aku segera menghentikannya.

Aku berkata kepada Livy, "Kamu akan tinggal di rumah kami selama beberapa hari, nggak mungkin pakai baju yang sama terus. Nanti biar anakku ke asrama untuk mengambilkan bajumu."

Livy kemudian memberi tahu anakku pakaian apa saja yang perlu diambil.

Setelah selesai makan, anakku langsung berangkat menuju asrama kampus untuk mengambil pakaian Livy.

Kini di rumah hanya tersisa aku dan Livy.

Berada dalam satu ruangan, hanya berdua saja, pikiran mesum itu kembali muncul dalam benakku.

Hawa panas mulai bergejolak di bagian perut bawahku.

Aku segera berusaha keras mengendalikan diri dan memaksa tubuh ini untuk tenang.

Namun tepat pada saat itu, Livy tiba-tiba mendekat ke sampingku sambil tersenyum nakal.

"Paman Willy, cairan lengket di celana dalamku ini gara-gara Paman, ‘kan?"

"Paman sudah lama sendiri, apa Paman nggak ingin melakukannya?"

Mendengar ucapan itu, seluruh bulu kudukku langsung merinding dan wajahku seketika memerah padam.

Tidak kusangka, perbuatanku ketahuan secepat ini. Rasanya aku ingin menghilang ke dalam lubang tanah saja karena malu.

Dengan terbata-bata aku menjawab, "I-itu ... Paman juga kurang tahu. Mu-mungkin ... itu cairan deterjen."

Melihatku begitu gugup, Livy sontak tertawa geli.

"Haha, Paman Willy jangan terlalu tegang, aku nggak menyalahkan Paman, kok."

"Aku paham, namanya juga laki-laki. Apalagi Paman Willy sudah lama nggak punya istri, sebenarnya aku bisa ngerti. Kalau Paman merasa tersiksa karena menahannya, aku bisa bantu Paman ...."

Sembari berbicara, tangan Livy tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam celanaku.

Begitu merasakan tangan kecilnya yang lembut menggenggam milikku, aku langsung tersentak mundur bagai tersengat listrik.

"Jangan, nggak boleh! Kamu itu sahabat anakku. Yang kulakukan itu memang salah, Paman minta maaf padamu."

Setelah aku tolak, Livy tampak sedikit kecewa. Tetapi dia kembali bersikap santai dan acuh tak acuh.

"Astaga Paman Willy, Paman kelihatan panik sekali. Aku cuma bercanda, tenang saja, aku nggak akan menceritakannya pada siapa pun."

Jantungku berdegup kencang tak keruan, dan seluruh tubuh terasa panas membara.

Tadi tangannya jelas-jelas sudah menggenggam bagian intimku itu.

Livy ini tampaknya agak liar. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa malu, bahkan cenderung agresif.

Hasrat yang tertanam di dalam lubuk hatiku pun makin membara.

Tidak lama kemudian, anakku kembali sambil menjinjing sebuah tas yang berisi pakaian Livy.

Kehadiran anakku seketika membuyarkan suasana ganjil yang sempat terbangun tadi.

Waktu dalam sehari pun berlalu dengan cepat.

Malam harinya, Livy mengenakan pakaian yang diambilkan anakku. Ketika melihat tumpukan pakaian bekas yang dilepasnya, perasaanku campur aduk.

Semula aku mengira perbuatan mesum itu tidak akan diketahui siapa pun. Namun, keesokan harinya justru langsung dibongkar secara terang-terangan oleh Livy.

Untung saja, dia gadis yang ceria dan sama sekali tidak marah karena masalah tersebut.

Sambil menekan gejolak di dalam dada, aku memasukkan pakaian kotor Livy ke dalam mesin cuci.

Ketika berjalan keluar, aku mendapati pintu kamar Livy sedikit terbuka. Dari dalam, samar-samar terdengar suara deru napas serta desahan seorang wanita.

Meskipun aku bukan pria yang punya banyak pengalaman dalam urusan ranjang, aku bisa langsung mengenali suara apa itu.

Apa mungkin Livy sedang ....

Rasa penasaran mendorongku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan langkah mengendap-endap, aku mendekati pintu kamar Livy. Melalui celah pintu, aku melihat dengan sangat jelas bahwa dia sedang menggunakan sebatang pisang untuk memuaskan dirinya sendiri.

Astaga, apakah gadis ini begitu kesepian dan bernafsu? Sampai-sampai dia menggunakan pisang.

Dan yang membuatku jauh lebih tercengang adalah, ternyata dia juga memegang celana dalam yang baru saja aku lepas!

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 8

    Sebelum melangkah pergi, Livy yang berdiri di depan pintu mendadak membalikkan badan dan menatapku. "Paman Willy.""Kalau nanti masih ada kesempatan, apa Paman akan menyesal karena sudah menolakku hari ini?"Sinar matahari senja menembus masuk melalui jendela lorong tangga. Sorot matanya tampak begitu rumit hingga membuatku tidak berani menatapnya secara langsung.Aku terdiam cukup lama, sebelum akhirnya hanya melontarkan satu kalimat. "Setelah kamu dewasa nanti, mungkin kamu akan menyadari kalau apa yang kamu sukai saat ini bukan cinta yang sesungguhnya."Ujung mata Livy seketika memerah. Dia tidak berbicara lagi, lalu berbalik dan pergi.Setelah kepergian Livy, rumah ini mendadak terasa kosong. Di meja makan, kini hanya ada piring dan sendokku. Di samping sofa pun, tidak ada lagi gadis yang selalu suka mencuri pandang ke arahku. Namun, hatiku tidak merasa lega sedikit pun. Karena yang benar-benar pergi bukan hanya Livy, melainkan juga rasa kepercayaan Jemima kepadaku.Selama

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 7

    "Apa kamu mengerti?" "Ada hal yang sekali saja dilakukan, kita nggak akan pernah bisa kembali lagi."Livy menundukkan kepalanya, air matanya menetes satu per satu di atas selimut. Di ruang tamu, kini hanya menyisakan suara jarum jam dinding.Setelah sekian lama, dia tiba-tiba berkata dengan lirih, "Paman Willy, bagaimana kalau Jemima nggak akan pernah memaafkanmu lagi?"Aku terdiam. Karena aku sendiri pun tidak tahu apa jawabannya.Keesokan paginya, setelah hampir tidak tidur semalaman, aku langsung pergi ke kampus Jemima begitu fajar menyingsing. Namun, dosen pembimbingnya bilang bahwa Jemima sama sekali tidak kembali ke asrama semalam.Pada detik itu juga, otakku mendadak kosong dan berdengung hebat. Aku memaksa diriku untuk tetap tenang, lalu menghubungi beberapa teman dekatnya. Hingga menjelang siang, seorang mahasiswi baru memberi tahuku dengan sangat hati-hati."Paman, semalam sepertinya Jemima menginap di hotel dekat kampus ...."Aku bergegas pergi ke sana.Saat aku menemu

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 6

    Aku terpaksa harus memakaikan pakaian Livy dulu. Dia berkata, "Paman Willy, jangan terlalu cemas. Jemima pasti akan kembali, jangan khawatir."Aku hanya bergumam mengiyakan. Namun, perasaanku saat ini bagaikan kereta yang tergantung di tengah tebing. Sangat waswas dan gelisah.Begitu selesai memakaikan baju Livy dengan susah payah, aku segera keluar lagi untuk mencari anakku.Saat aku bergegas keluar dari kompleks perumahan, hujan gerimis mulai turun. Angin malam terasa sangat dingin. Aku berdiri di tepi jalan sambil terus menghubungi ponsel Jemima. Namun, hanya terdengar suara operator yang dingin."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif ...."Aku menggenggam ponselku, hatiku seakan-akan perlahan-lahan tenggelam. Sorot lampu mobil di jalanan melintas di depan mataku. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar akan kehilangan anakku satu-satunya ini.Selama bertahun-tahun, aku membesarkannya seorang diri. Saat dia demam tinggi waktu kecil, aku menggendongnya sambil berlari mel

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 5

    Aku ini pria dewasa, bagaimana bisa aku membantu seorang gadis untuk mandi?"Jangan, nggak bisa! Mana mungkin aku membantumu mandi? Bukannya nanti akan kelihatan semuanya?"Livy tiba-tiba tersenyum ke arahku. "Kelihatan oleh Paman Willy juga nggak apa-apa, aku nggak keberatan. Lagi pula, bukannya Paman sudah pernah melihat semuanya ...."Bagaikan digerakkan oleh kekuatan gaib, saat menatap tubuh seksi Livy, hasrat yang tak terbatas kembali melonjak dalam diriku. "Ka-kalau begitu, baiklah. Tapi Paman cuma akan menggosok punggungmu saja, Paman nggak akan melihat bagian depan tubuhmu."Livy mengangguk setuju.Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Livy perlahan-lahan menanggalkan pakaiannya. Menatap punggungnya yang putih mulus, jakunku terus naik-turun karena menelan ludah. Aku mengulurkan tangan untuk membantunya menggosok punggung. Lewat telapak tanganku, sensasi halus dan kenyal terus terasa. Terlebih lagi, dari posisi ini, aku bisa melihat sekilas bagian dadanya yang montok dari a

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 4

    Kedua tangan Livy memelukku dengan sukarela. Dia memejamkan mata, menanti serangan dariku. Namun, ketika aku menatap wajahnya yang masih muda dan menyiratkan kesan lugu itu dengan jelas, aku mendadak tersadar. Dia hanya seorang mahasiswa, aku tidak boleh melakukan perbuatan bejat ini!Jadi, aku segera mengenakan celanaku kembali dan beranjak dari tepi ranjang Livy.Dia menatapku dengan penuh kekecewaan. "Ada apa, Paman? Apa terjadi sesuatu?"Aku menggelengkan kepala dan berkata dengan nada penuh penekanan, "Livy, bagaimanapun juga, aku jauh lebih tua darimu. Kita benar-benar nggak boleh melakukan hal seperti ini.""Kalau ini sampai terjadi, bagaimana aku harus menghadapi anakku nanti?"Mendengar keraguanku, wajah Livy menyiratkan rasa tidak rela. Dia masih ingin melanjutkan, tetapi aku sudah bertekad untuk menyudahinya. Aku berjalan keluar kamar dalam diam dan menutup pintunya.Begitu keluar, aku mendapati pintu kamar anakku sudah terbuka. Aku melongok ke dalam, tetapi anakku tid

  • Saat Sahabat Anakku Menginap   Bab 3

    Livy menghirup aroma di celana dalamku itu, dengan wajah yang tampak begitu menikmati.Dia ... dia ternyata tertarik pada pakaian dalamku! Seketika aku teringat kejadian siang tadi, saat dia sengaja menyelinapkan tangannya ke dalam celanaku. Apakah saat itu dia memang punya niat tertentu? Aku, seorang pria tua yang sudah hidup hampir setengah abad, ternyata masih bisa memikat gadis muda berusia delapan belas tahun yang begitu menawan. Membayangkannya saja sudah membuatku sangat bergairah.Tepat pada saat itu, Livy tiba-tiba memergokiku. Dia malah melambaikan tangan, memintaku masuk.Bagaikan kerasukan setan, aku menutup pintu lalu berjalan ke tepi ranjang Livy. Dia meletakkan pisang yang baru digunakannya ke atas meja nakas, aku bisa melihat lingkaran noda basah di permukaan benda itu.Dengan wajah merona kemerahan dan tampak malu-malu, Livy berkata, "Paman Willy, yang tadi ... Paman lihat semuanya?"Aku mengangguk. Gejolak hasrat yang hebat, mendadak membakar perut bawahku, memb

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status