"Ayo, Mbak. Kita harus lari sekarang. Kalau enggak, nyawa kita bisa dibuat melayang!"Wulan yang kelelahan menyeka peluh yang membasahi keningnya. Napasnya masih tersengal-sengal akibat berlari tanpa henti. Dadanya naik turun dengan cepat, sedangkan kedua kakinya terasa semakin begitu pegal. Lalu, ia meringis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan pada Arga.Selanjutnya, Wulan kembali berdiri. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya melanjutkan langkah bersama Arga."Capek, Ga. Kakiku rasanya pegel banget," kata Wulan, mengeluh pada Arga yang kembali menggenggam pergelangan tangannya.Tak tega melihat kondisi Wulan yang kelelahan, Arga pun menghentikan langkahnya. Pemuda itu lalu mencondongkan tubuhnya dan meminta sang mantan kakak ipar untuk naik ke punggungnya."Buruan naik, Mbak. Biar aku gendong!" kata Arga dengan cepat dan deru napas memburu tak beraturan.Suara Arga terdengar terburu-buru. Meski berusaha menyembunyikannya, gurat lelah tergambar
Terakhir Diperbarui : 2026-08-20 Baca selengkapnya