Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 76. Ajari Aku, Mbak!

Share

76. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-08-19 23:56:52
"Lihat, Mbak. Punyaku udah tegang dan keras banget!"

Mata Wulan yang memerah seketika melotot lebar. Ia benar-benar kaget dengan tingkah mesum Arga saat ini.

Baru saja mereka berbicara serius dan membuatnya merasa haru. Namun, sekarang pemuda itu justru bertingkah membagongkan.

Bagaimana tidak?

Pemuda itu berbicara sembari menarik tangan Wulan dan mengarahkannya ke bagian batang kemaluannya yang mulai tegang dan mengeras.

"Argantara... jangan nakal!" kata Wulan sembari menarik tanganny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   226. Ajari Aku, Mbak!

    "Sekali aja, Ga. Sentuh aku pakai tanganmu. Aku pingin ngerasain disentuh kamu sampai orgasme!"Gluk!Pemuda yang kini duduk di pinggiran tempat tidur dengan tubuh dipeluk erat itu meneguk ludah dengan susah payah. Ia menggigit bibir, sedangkan tangannya yang berada di atas paha terkepal erat hingga membuat buku-buku tangan dan urat kecilnya menonjol.Di satu sisi, Arga kasihan setelah mendengar cerita Mira. Di sisi lain, ia takut kelepasan kontrol dan justru berujung melanggar janjinya pada Wulan."Mau nggak, Ga? Kali ini aja ... aku beneran nggak minta lebih. Aku orgasmenya nggak lama kok, palingan lima belas menit," kata Mira dengan suaranya yang amat pelan. Saking pelannya, layak disebut sebagai gumaman, sedangkan matanya menatap penuh harap.Arga menghela napas pelan sebelum akhirnya mendorong kedua bahu Mira agar melerai pelukannya."Ga, aku...."Swos!Belum sempat Mira menyelesaikan kalimatnya, Arga sudah lebih dulu menyingkirkan selimut yang menutup area bawah Mira yang telanj

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   225. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi maksudnya, kalau saya yang ngelakuin itu, Mbak Mira nggak akan nolak?"Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari bibir Arga. Keningnya berkerut, matanya yang menyipit menatap Mira tanpa berkedip.Sedangkan Mira sendiri menggigit ujung bibir bawahnya kuat-kuat. Jemarinya meremas pinggiran seprai tempatnya duduk. Ia yang ditanya oleh Arga menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu menunduk dalam.Melihat respons yang diberikan Mira, Arga pun memejamkan matanya seraya menghela napas pelan."Tapi saya nggak bisa ngelakuin itu sama kamu, Mbak. Saya udah janji ke diri saya sendiri kalau saya nggak akan berhubungan seks sama perempuan lain. Saya mencintai istri saya dan nggak ingin berbagi sama siapa pun," lanjut Arga. Suaranya pelan dan sengaja ditahan, sedangkan matanya kembali menatap Mira yang terduduk di hadapannya.Mira mengangkat wajahnya dan menatap Arga. Lalu, memaksakan senyumnya dan menarik selimut yang sebelumnya tak sengaja disingkap oleh Arga, menutup kembali bagian bawa

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   224. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga... maaf, Mbak. Saya nggak sengaja lihat!" Arga yang memasuki ruangan Mira, seketika memalingkan muka saat matanya menatap pemandangan di atas tempat tidur. Ia terlihat kaget, bahkan tubuhnya menjadi tegang, lebih tegang dari batang kemaluan di balik celana jinsnya. Bagaimana tidak tegang dan kaget? Di atas ranjang ruangan tersebut, Mira duduk bersandar pada kepala ranjang dengan bagian bawah tubuhnya yang telanjang. Kedua pahanya terbuka lebar, menampilkan pemandangan indah yang membuat pria normal mana saja melotot melihatnya. Pemandangan tersebut mirip seperti Wulan yang terpergok bermain solo beberapa waktu lalu. Namun, pada saat itu, Wulan bermain solo ditemani sebuah terong ungu berukuran sedang dan juga mengorek-ngorek liang kenikmatannya menggunakan jari. Sedangkan Mira saat ini, bermain apem tembemnya menggunakan sebuah alat yang begitu mirip dengan kemaluan pria. Saat alat tersebut ditekan, tubuh Mira bergetar dan suara desahannya memenuhi seantero kamar kedap

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   223. Ajari Aku, Mbak!

    Pergumulan panas antara Amelia dan ketiga pengawalnya terus berlanjut. Bahkan mereka mencapai puncak klimaks hingga berkali-kali malam itu. Gatot, Wanto dan Rusdi berhenti menggumul tubuh Amelia setelah bos mereka itu benar-benar terkulai lemas. "A-a-aku udah nggak kuat lagi, rasanya vaginaku perih dan badanku lemes banget. Ngeh...."Amelia yang terkulai lemas di atas sofa itu berbicara dengan nada suaranya yang pelan dan tersengal-sengal. Wajahnya terlihat lesu, serta matanya menatap sayu. "Kita udahan sekarang, Bos? Nggak mau dilanjut lagi?" tanya Gatot seraya mengurut penisnya yang sudah lima kali crot di mulut serta tubuh Amelia. Crot terbanyak dalam hidupnya hanya dalam waktu semalam. Sejak tadi, penis itu dibuat bangun tidur, bangun dan tidur lagi. Tetapi ternyata, Gatot benar-benar tak kenal puas. Bahkan, jika Amelia masih ingin di genjot, batang kemaluan Gatot masih sanggup bekerja. Namun tampaknya, Amelia sudah benar-benar tidak berdaya lantaran energinya terkuras habis.

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   222. Ajari Aku, Mbak!

    "Cepet isep punyaku sampe bersih!" Gatot berbicara sembari menempelkan batangan tegangnya yang berkedut kencang ke bibir Amelia dan memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Amelia yang duduk di sofa dengan tubuh agak lemas dan kedua paha terbuka lebar itu hanya bisa pasrah saat Gatot menempelkan batang kemaluan itu ke bibirnya. Terpaksa, Amelia membuka mulutnya, membiarkan penis Gatot masuk dan menyemburkan benihnya yang hangat dan kental di sana. "Huek, huek...."Begitu Gatot menjejalkan batang kemaluannya dan menyemprotkan spermanya, mata Amelia seketika mendelik lebar. Bahkan wanita itu langsung merasakan mual, terbatuk-batuk dan memuntahkan cairan kental tersebut. "Telen semuanya, jangan di buang," kata Gatot masih dengan penisnya di mulut Amelia. Pria berbadan kekar itu tak memberikan jeda dan juga ampun. Meskipun Amelia sudah muntah-muntah, tetapi dia tetap tak menarik penisnya dan tetap memaksa bosnya itu untuk menelan semuanya. "Pelan-pelan aja, pastiin semuanya habis

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   221. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga... help, jangan robek lubangku, Gatot!" Amelia yang belum pernah dimasuki oleh penis sebesar itu selain milik mantan suaminya yang ukurannya tidak memuaskan, spontan menjerit keras. Matanya membelalak, sedangkan mulutnya terbuka lebar. Dada wanita itu seketika bergemuruh hebat, membuat payudaranya yang besar ikut naik turun. Saat ini miliknya terasa begitu sesak dan amat penuh, bahkan agak sedikit sakit. "Duh... rasanya agak sakit, Tot. Punyaku rasanya sesak banget sekarang!" kata Amelia lagi. Tangannya yang semula menggenggam penis Rusdi dan Wanto, perlahan melemas lantaran sensasi sakit, sesak dan penuh akibat tusukan Gatot. "Saya diemin dulu di dalem biar Bu Bos rilex dan tenang. Nanti kalau udah tenang, bakal saya genjot pelan-pelan," kata Gatot. Menimpali perkataan Amelia dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Amelia menggigit bibir, sedangkan kepalanya mengangguk pelan. Wajahnya memang terlihat agak sedikit lemas, tetapi tangannya kembali bergerak, meraih pen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status