“Kamu nggak mungkin terus-terusan cemburu, Mas. Aku bakal selalu interaksi sama cowok. Dulu Arlo, sekarang Julian, besok siapa lagi?”Lala resah. Di tempat tidur semalam, dia tak bisa berpikir sebab Arvin terus menggempurnya dengan percintaan panas. Namun, esok harinya setelah segala kerisauan dan kecemasan menghilang, pikiran Lala pun kembali jernih.Di sampingnya Arvin yang sedang menyetir hanya tersenyum tipis. “Aku hanya cemburu pada orang-orang yang menyukaimu saja, Lala.”Lala memutar bola mata. “Oh, ayolah, Mas. Sudah aku bilang, Julian itu gay. Dia suka cowok, bukan suka cewek.”“Apa lima tahun kenal dia, kamu benar-benar melihat dia pacaran dengan laki-laki?”Lala mengerjap.“Atau kamu hanya dengar dari cerita dia saja?” tanya Arvin lagi.Lala membuka mulut, tetapi menutupnya lagi perlahan. Pandangannya kini beralih ke depan, ke arah jalan raya Jakarta yang pagi jam setengah tujuh itu sudah padat kendaraan.“Aku … aku kenal Julian dengan baik. Awalnya dia juri di salah satu k
Última actualización : 2026-09-03 Leer más