“Kamu rumahku, Lala. Tolong, jangan usir aku.”Tenggorokan Lala tercekat. Pandangannya tertahan kepada sosok Arvin yang berdiri di depannya dengan tampang memelas.“Kalau kamu mau hukum aku karena kesalahan masa lalu, pukul saja aku, La. Siksa aku. Tapi jangan pernah hilang lagi.”Lala menatap lurus ke arah Arvin, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya sedang berantakan. Lala menelan ludah, memaksa segumpal rasa panas yang menghalangi suaranya keluar untuk segera pergi.Pikirannya sempat terlempar ke koridor luar, di mana Arlo sudah melipis kabur ketakutan begitu Arvin melangkah naik ke lantai dua tanpa mengucap sepatah kata pun.“Aku nggak mau siksa orang, Mas. Aku tahu sakitnya disiksa sama orang lain,” ujar Lala lirih.Mata Arvin berkabut. Di sini, di depan pintu kamar Lala, pria itu lunglai. Dia sangat ingin memeluk istrinya, tetapi Arvin tahu jarak setengah meter antara dirinya dan Lala sangat diperlukan oleh mereka berdua.Sementara Lala masih terus menatap suaminya.
Última actualización : 2026-08-28 Leer más