“Ini sudah waktunya kalian menikah!”Sarapan pagi itu langsung diisi dengan kekagetan Lala. Hampir saja dia menyemburkan jus jeruknya.Sementara, di sampingnya Arvin hanya mengangkat alis. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi senyumnya lebar di balik cangkir kopi yang diminum.“Ibuk,” Lala protes, “kami kan, emang udah nikah.”“Ami, yang jelas kalau ngomong. Anak-anak jadi bingung.” Ibu menyentuh halus siku besannya.Tante Ami mengangguk-angguk. “Maksudku, kalian harus adakan resepsi. Kalian sudah resmi menikah. Sudah waktunya mengumumkan pernikahan kalian.”Arvin mengangguk setuju, tetapi Lala tidak.“Loh, Lala, kenapa?” Ibu terheran-heran.“Lala, pikirkan dulu. Arvin ini CEO Dirgantara Group. Masak nikahannya nggak rame? Kolega kami ada banyak, Lala.” Tante Ami membujuk.Lala memutar-mutar gelas jus jeruknya. Pandangannya menunduk.Setelah kemarin kedua ibunya datang ke Bali, pagi ini semua keluarga akhirnya bisa berkumpul kembali. Ibu, Tante Ami, dan Arlo bahkan secara khusus menjempu
Última actualización : 2026-08-30 Leer más