“Bagaimana caraku berterima kasih sama kamu, Dilan? Perlu kukasih tonjokan di wajah apa tendangan di kaki?” Dilan meringis. “La, jangan gitu. Aku kan, berusaha baik biar rumah tangga kamu selalu rukun. Apresiasi, dong.” Dilan kembali bicara, kali ini diiringi usahanya membantu Lala mengemas map-map dokumen ke dalam kotak kardus. “Aku serius, La. Rumah yang disewa perusahaan emang kecil. Kamarnya dikit. Semuanya sudah dibagi-bagi sesuai jenis kelamin dan sudah pas. Jadi, ya, terpaksa kamu sama Arvin harus ngalah. Kalian harus tinggal sekamar.” Dilan mengernyitkan dahi. “Eh, kenapa harus ngalah? Kalian kan, pasangan halal. Ya, gak masalah, sih. Asal jangan pamer kemesraan saja di depan tim. 90% masih jomblo.” Lala mendengkus. Dia kembali memusatkan perhatian ke barang-barang kantor yang akan dibawanya ke Kota P. “Lagian, ya, kamu harus waspada. Arvin itu ‘tangkapan bagus’. Banyak ibu-ibu yang pengen ngawinin anaknya sama dia. Kamu belum tahu saja gimana agresifnya ibu-ibu Kota P ny
Last Updated : 2026-09-09 Read more