“Gede. Keras. Panjang. Kalau semua cewek tahu rasanya, emang paling baik harus dingin banget. Kalau anget-anget, emang bakal bikin ketagihan.” Pletak! “Aduh, Dil! Ngapain jitak kepalaku? Aku jadi bego, kamu juga yang repot.” Dilan berdecak keras. “Omonganmu itu, Nalani. Bikin otak traveling. Cuma makan sosis doang, kenapa bahasamu ngelantur ke mana-mana?” “Kamu yang ngelantur. Otaknya dikondisikan, tolong.” Lala nyengir. Dilan ikut tersenyum. Sarapan mereka pagi ini sangat enak. Keduanya sama-sama memilih menu internasional. Jadi, sekarang di piring Dilan dan Lala ada dua sosis besar, kentang tumbuk, telur orak-arik, kacang merah, dan irisan keju serta tomat. “Mood kamu bagus banget, Nala–” “Panggil Lala aja deh, Dil. Risih juga kupingku denger nama lengkap disebut,” potong Lala. “Oke, Lala. Mood kamu–” “Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya Lala?” Dua kepala langsung mendongak. Dilan mengerang. Lala tersenyum cerah. “Wah, bos besar sudah bangun. Akhirnya.” Dilan menyindir.
Terakhir Diperbarui : 2026-08-12 Baca selengkapnya