“Mbak Selma, seriusan, ih! Pak Arvin pebinor?”Selma memotong steak daging wagyunya dengan tenang. Dia menatap Lala lekat-lekat.“Tanggung jawab sekretaris adalah menjaga rahasia atasan, termasuk kehidupan percintaannya. Itu privasi. Jadi, Lala, maaf. Aku tak bisa jawab apakah Pak Arvin adalah perusak hubungan orang lain apa bukan.”Lala mencebik, tetapi tidak mendesak lagi. Dia kembali memakan salmon mentainya. Walau sudah diisi camilan berkarbohidrat tinggi, perut Lala tetap punya ruang untuk steak pesanannya siang itu.“La, kamu sama pacarmu sudah berapa lama?”Lala sekali lagi tersedak. “Mbak Selma, aku udah bilang. Aku nggak punya pacar.”“Loh, terus tanda cupang di lehermu itu apa? Sejumbo apa nyamuk sampai bisa bikin lebam kebiruan di leher macam itu?” Selma bertanya geli.Lala tersipu malu. Dia memastikan scarf-nya tidak melorot lagi. “Pokoknya jangan sampai kebablasan, La. Kariermu di Dirgantara masih baru dimulai. Jangan lupakan pengaman tiap berhubungan.”“UHUK! UHUK!” Lal
Terakhir Diperbarui : 2026-08-07 Baca selengkapnya