“Masuk,” ucap Vivi seraya memutar daun pintu, memberikan jalan bagi Agnes untuk menyusup ke dalam kehangatan huniannya. Agnes melangkah masuk dengan gestur yang rapuh, membawa serta beban keputusasaan yang masih menggelayut kaku di pundaknya. Ia menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai area menonton televisi, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam empuknya bantalan. Pandangan matanya menyapu sekeliling, mencari presensi lain. “Kakak kamu... ada di rumah?” Vivi menggelengkan kepala pelan. “Lagi ada jadwal terbang,” sahutnya ringkas. Tanpa membuang waktu, Vivi berjalan menuju area meja makan yang menyatu secara terbuka dengan ruang tengah. “Makan yuk, aku tadi sempat beli mi tektek.” “Aku masih kenyang, Vi,” tolak Agnes halus. Suaranya terdengar begitu tipis dan tak berdaya. “Makan berdua aja.
Last Updated : 2026-09-27 Read more