Daniel dan Agnes masih bertatapan di tengah ruang tengah yang hening. Di antara keheningan itu, mengalir arus emosi yang intens—sebuah pilu yang tersisa dari perselisihan, berbaur dengan ketakutan samar akan jarak yang baru saja membentang. Namun, di atas segalanya, ada desakan kerinduan mendalam yang menuntut untuk ditumpahkan.Agnes perlahan mendekati Daniel, memberanikan diri mengikis sisa kecanggokannya. “Aku … mencintaimu.” Perasaan itu terucap sarat kejujuran, membawa kehangatan yang menggetarkan dadanya. Tangannya yang gemetar terangkat, hendak menyentuh dada Daniel untuk merasakan detak jantung pria itu. Namun, langkah jemarinya mendadak ragu. Keraguan merayapi benaknya tatkala ia teringat betapa sensitifnya dinamika di antara mereka jika menyentuh Daniel secara impulsif. Agnes menghentikan gerakan tangannya, membiarkan jemarinya mengambang pasrah tepat di atas serat kain baju Daniel.Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Daniel melingkarkan lengannya dan memeluk Agnes
Last Updated : 2026-09-12 Read more