Ruangan itu tiba-tiba terasa sempit, seolah udara ikut menahan napas bersama mereka. Hanya Vicktor dan Amora yang tersisa di sana, berdiri dengan perasaan yang belum sepenuhnya pulih dari kejadian Lucy yang mendadak pingsan.Amora menunduk, jemarinya saling meremas, seakan ia benar-benar diliputi rasa bersalah."Maafkan aku, Vick. Aku terbawa emosi," ucapnya lirih, suara yang dibuat serapuh mungkin.Di balik wajah sendunya, tersembunyi kepuasan kecil yang tak akan pernah ia perlihatkan. Semua ini harus terlihat sempurna. Ia harus tetap menjadi wanita lembut di mata Vicktor.Vicktor mendekat, tangannya terangkat dan mengelus lembut kepala Amora."Tidak masalah, Sayang. Ini bukan salahmu," ucapnya tenang, penuh keyakinan.Amora mengangkat wajahnya perlahan, matanya tampak berkaca-kaca."Tapi Lucy pingsan..." lanjutnya, nada suaranya bergetar."Mungkin Lucy sedang banyak tekanan," jawab Vicktor, mencoba menenangkan. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang ikut aku."Tanpa memberi kesemp
Last Updated : 2026-07-10 Read more