Sekitar dua jam berlalu sejak sesi pemotretan terakhirnya. Amora sudah mengganti gaunnya, membersihkan make-up tebal di wajah, dan kini berdiri di depan pintu ruangan direktur. Panggilan dari Vicktor, sang bos besar, terasa seperti sesuatu yang tidak bisa ia tolak, meski tubuhnya sudah lelah.Sebelum mengetuk pintu, Amora menghela napas pelan. Entah mengapa, dada kirinya terasa berat. Ia mengangkat tangannya, lalu mengetuk sedikit keras.“Masuk,” terdengar suara berat namun tegas dari dalam.Amora memegang gagang pintu, mendorongnya perlahan, dan melangkah masuk. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyapa kulitnya. Amora kembali menutup pintu, berdiri sejenak, lalu menatap pria di balik meja besar itu.“Duduklah, Elisha,” ucap Vicktor dengan nada ramah, senyumnya samar tapi matanya tajam mengawasi.Amora mengangguk pelan, lalu duduk di kursi di depannya. Ada sesuatu dalam cara Vicktor menatapnya, seperti ada hal yang ingin diucapkan tapi tertahan di tenggorokan.“Kapan kau d
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-07 Mehr lesen