Sinta menghentikan langkahnya. Pandangannya perlahan beralih ke arah ruang televisi. Di sana, Abimanyu duduk dengan kaki menyilang. Satu tangannya bertumpu pada sandaran sofa, sementara tangan yang lain menggenggam gelas berisi minuman yang entah sudah berapa lama berada di sana. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya begitu dingin hingga membuat udara di dalam rumah terasa beberapa derajat lebih rendah. "Aku keluar makan bersama teman," jawab Sinta tenang seraya melepas sepatunya. "Teman?" Abimanyu mengulang dengan nada tipis. "Seingatku, kamu tidak punya teman." Sinta terkekeh lirih, lebih terdengar seperti sindiran daripada tawa. "Itu karena selama ini kamu tidak pernah benar-benar mengenalku." Kalimat itu membuat alis Abimanyu bertaut. Ia menatap istrinya beberapa saat, seolah memastikan wanita di hadapannya benar-benar Sinta yang selama ini selalu menunduk dan memilih diam. Namun, pada akhirnya Abimanyu terlihat mengalah. "Hanya itu saja? Kamu tidak melakukan hal lain?" "Ya,
Last Updated : 2026-08-08 Read more