"Begitu ya, berarti selama ini roda kehidupanku selalu di atas dong, soalnya kamu selalu kalah, Sinta. Ibumu mati, ayahmu memilih selingkuhannya, lalu anakmu mati karena suamimu lebih memilihku, mungkin... sebentar lagi nenekmu juga mati kalau kamu masih berani merayu—"Plak!!Suara tamparan keras yang nyaring menggema di ruang toilet yang lengang. Wajah Rashta menoleh ke samping, jejak lima jari menempel di wajahnya yang putih, tampak merah menyala."Tutup mulutmu." Sinta maju ke depan. Belum sempat Rashta bereaksi, jemari Sinta lebih dulu mencengkeram rambut gadis itu dengan kuat. Rashta meringis kesakitan."Aku biasanya tidak melakukan kekerasan, tapi sepertinya, kamu adalah pengecualian. Rashta, dengar ucapanku ini dan ingat baik-baik."Sinta mendekatkan bibirnya ke telinga Rashta. Bola mata gadis itu membola sempurna, wajahnya yang putih tampak pucat pasi."Dulu, aku tidak bisa berbuat apa-apa atas semua kejahatanmu karena aku tidak mempunyai apa-apa. Sekarang, kalau kamu berani
Last Updated : 2026-09-30 Read more