แชร์

Bab 29 : Papa?

ผู้เขียน: Maufy Izha
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-10 07:59:31
Sinta tersenyum pahit. "Bukan pernikahannya."

"Lalu?"

"Karena aku terlalu mencintai suamiku, makanya aku bertindak bodoh."

Arjuna terdiam. Sinta tidak menyadari perubahan sorot mata pemuda itu yang menjadi sendu.

Sinta kembali mengaduk bumbu di dalam mangkuk.

Satu jam kemudian, makanan akhirnya tersaji di meja makan.

Sinta menatap beberapa hidangan di hadapannya dengan mata berbinar. "Kelihatannya enak."

"Tentu saja." Arjuna duduk di hadapannya. "Aku yang memasaknya."

Sinta mencicipi sed
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 53 : Ciuman Panas

    "Baiklah, tapi jangan terlalu lama, oke?" Jay tampak serius mengingatkan. Arjuna hanya mengangguk singkat. Setelah Jay pergi, pemuda itu menatap Sinta. "Ayo..." Sinta mengangguk kaku. Entah kenapa, jantungnya malah berdegup lebih kencang sampai kakinya terasa gemetar. Selama berjalan menuju unitnya, Sinta dan Arjuna tidak saling berbicara. Sinta merasakan kedua tangannya menjadi dingin karena gugup. "Arjuna, untuk masalah tadi, aku... Hmp!" Sinta membelalak kaget saat bibir pemuda itu tiba-tiba menempel di bibirnya. Napasnya yang panas menerpa wajah Sinta hingga membuat bulu kuduknya berdiri. "Kak Sinta, kenapa memberiku harapan seperti itu?" Sinta tertegun sejenak. Harapan? Harapan apa yang dimaksud? Sinta berusaha berpikir cepat, namun karena kejadian ini begitu tiba-tiba, otaknya tidak mampu berpikir dengan jernih. Arjuna telah melepaskan ciumannya. Pemuda itu kemudian menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Sinta, membuat wanita itu tanpa sadar mengeluarkan desahan pe

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 52 : Maaf, Tapi Aku Sangat Bahagia

    Mendengar ucapan Sinta yang begitu frontal, senyuman mengejek di bibir Orion dan Jupiter membeku seketika. Tak terkecuali Abimanyu, yang semakin memandang Sinta dengan dingin. "Sinta, berhentilah berpura-pura. Kamu sebenarnya sakit hati, kan, karena akhirnya Bima menceraikanmu?" "Sakit hati? Maaf, Tuan Orion, tapi aku sangat bahagia," jawab Sinta dengan tenang. Sinta mengalihkan pandangannya pada Abimanyu dan Rashta—yang menempel pada pria itu layaknya perangko. "Lagipula, kenapa aku harus sakit hati? Kalau suamiku tidak menginginkanku, bukan berarti tidak ada yang berminat padaku, kan?" Entah jin mana yang merasuk ke tubuh Sinta, wanita itu dengan percaya diri menghampiri Arjuna, kemudian merengkuh pinggang ramping dan kokoh pria itu, lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang pemuda. Dengan gerakan yang anggun namun tampak manja, Sinta mendongakkan kepalanya menatap netra gelap pemuda itu seraya menggerakkan jemarinya di dada bidangnya. "Benar kan?" Tidak ada satu

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 51 : Bukan Istri, Tapi Calon Mantan Istri

    "Tunggu apa lagi? Cepat hubungi mereka berdua!" pinta Lula dengan tidak sabar, sementara Sinta masih tampak bimbang. Karena gemas, Lula langsung merebut ponsel Sinta. "Apa password-nya?" Sinta mendengus kecil, kemudian mengambil kembali ponselnya. "Iya, iyaa... Aku telepon dia sekarang juga, puas?" Lula mengangguk seraya terkekeh geli. Telepon pun segera tersambung. Namun, tidak seperti biasanya, Arjuna tidak segera menjawab panggilannya. Sinta menekan bibirnya ke dalam, tampak sedikit gelisah. Hingga panggilan itu berakhir, Arjuna masih tidak menjawabnya. "Mungkin dia sedang sibuk atau... sedang bersama dengan klien," ucap Sinta, meskipun kelihatan tidak yakin. "Tumben sekali. Ya sudah, coba telepon lagi saat jam pulang kantor nanti." "Sudahlah, kita rayakan berdua saja pun tidak masalah, kan?" "Heyy, apa kamu lupa? Mereka berdua juga berjasa atas keberhasilanmu. Arjuna dan Jay yang membantumu memulihkan akun, mereka juga secara tidak langsung membantumu bebas dari pen

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 50 : Kabar Gembira

    Sinta menatap Arjuna dengan mulut setengah terbuka. Bagaimana bisa pemuda ini mengatakan hal seperti itu dengan sangat santai? Sinta semakin merasa bahwa Arjuna masih sangat polos. Pemuda itu mungkin masih kesulitan untuk membedakan rasa ketertarikan sesaat dengan cinta sesungguhnya. "Jangan bicara macam-macam. Sekarang sebaiknya kita habiskan makanan ini dan antar aku ke butik, oke?" Sinta mengalihkan pembicaraan dengan cepat, meskipun hatinya masih berdebar mendengar pernyataan dari pemuda itu. Arjuna hanya tersenyum tanpa membantah. Mereka pun menghabiskan sarapannya, meninggalkan kafe itu, lalu pergi ke butik. "Kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Sinta di tengah perjalanan mereka, karena melihat Arjuna masih berpakaian casual. "Kak Sinta lupa? Aku adalah sales, jam kerjaku cukup fleksibel." Benar juga. Sinta akhirnya tidak bertanya lagi. Arjuna hanya mengantar Sinta sampai di depan mal dan langsung pergi setelah Sinta masuk ke dalam. Tepat saat jam istirahat, Sint

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 49 : Aku Masih Istri Orang

    Sinta duduk di pinggir jalan dengan tatapan kosong, sisa-sisa ketakutan masih tertinggal di hatinya. Meski berbicara dengan lantang dan berwajah tenang, nyatanya Sinta harus berperang dengan rasa takut dan jantungnya yang hampir meledak saat berhadapan dengan Krisna. Ayahnya itu telah meninggalkan banyak trauma. Hukuman kejam tanpa belas kasihan yang Sinta terima setiap kali sang ayah marah masih sangat membekas dalam memorinya. Dikurung di gudang yang gelap karena ibu tirinya menuduhnya mencuri uang. Dilemparkan ke kolam renang sampai nyaris mati tenggelam karena Renata mengadukannya pada sang ayah saat keduanya bertengkar. Sampai tidak diberi makan seharian penuh karena dianggap tidak patuh pada Ambar. Sinta sangat bodoh karena saat itu ia masih berharap bahwa ayahnya akan berubah. Kenangan indahnya bersama sang ayah saat pelakor itu belum datang adalah salah satu alasannya berharap saat itu. Sekarang, Sinta malah berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria it

  • Ditinggal Pergi, Mantan Suami Justru Mengemis Cinta    Bab 48 : Sinta yang Perkasa

    Panggilan telepon Lula ditutup dengan helaan napas berat dari Sinta. Urusannya dengan ayahnya pasti akan panjang. Tapi, Sinta sudah memutuskan untuk menghadapinya besok. Esok paginya, Sinta bangun lebih awal. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Sinta memesan taksi. Seperti rencananya, Sinta benar-benar mencari palu di dapur dan memasukkannya ke dalam tas. Ia akan pergi ke rumah ayahnya—tidak, itu sebenarnya adalah rumah ibunya yang direbut oleh ayahnya dan sang pelakor, jadi ia harus menjaga diri. Setidaknya, kalau ia dianiaya, minimal kepala salah satu dari mereka juga harus bocor. Masalah penjara, itu bisa dipikirkan nanti. Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan gerbang rumah keluarga Sinta—rumah yang dulu ia tinggali dengan sejuta luka masa kecil, tempat di mana ia dibesarkan oleh ayah kandung bersama istri barunya yang memperlakukannya tidak lebih seperti anak buangan. Sinta menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pagar besi yang tidak dikunci. Ia melangka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status