Sumini berdiri terpaku di ambang halaman, matanya menyipit bukan karena cahaya matahari, melainkan karena rasa tidak percaya. Ia memandangi sosok di hadapannya dari ujung kaki hingga kepala.Tarjo, pemuda yang selama ini dikenal lusuh, kini berdiri di hadapannya seperti orang yang berbeda. Kemeja baru berpotongan pas di badan, celana jins gelap tanpa dekil, sandal jepit baru yang masih mengkilap, hingga helm standar SNI yang tergantung di setang motor. Semuanya tampak serba baru, seolah menyisakan bau toko yang khas.Sumini merasa pangling.“Eh, Bi Sum... tumben...” sapa Tarjo, nada suaranya canggung.“Jo, itu motor siapa?” tanya Sumini, langsung pada intinya tanpa basa-basi.“Motorku, Bi...” jawab Tarjo singkat, ada sedikit nada bangga yang berusaha ia sembunyikan di balik senyum tipisnya.“Jadi benar kata orang-orang... kemarin pemilik toko emas di kota itu memberimu motor karena kamu mengembalikan kalungnya yang jatuh?” selidik Sumini, matanya menatap lekat-lekat mata Tarjo.Tarjo
Última actualización : 2026-08-28 Leer más