Sebulan setelah pernikahanku,Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan udara dingin yang pengap menyambutku begitu melangkah masuk ke ruang kunjungan lapas. Dinding beton berwarna abu-abu tampak mengelupas di beberapa bagian. Dari kejauhan, sesekali terdengar gemerincing rantai besi, disusul derap langkah yang menggema di lorong.Aku datang untuk menemui Guntur.Ia duduk di kursi besi yang tertanam di lantai. Sebuah kaca transparan memisahkan kami, dengan lubang-lubang kecil. Aku menarik kursi di seberangnya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja. Jemariku saling mencengkeram hingga buku-bukunya memutih.Guntur duduk bersandar dengan wajah tenang. Tak ada kerutan penyesalan di dahinya, tak ada kegelisahan dalam gerak-geriknya. Bahkan, ketika pandangan kami bertemu, ia justru menyunggingkan senyum tipis, seolah kami sedang duduk berhadapan di sebuah kafe, bukan di ruang kunjungan penjara.“Aku sudah bilang, Sayang. Setelah kontrakmu berakhir, seharusnya kau ikut denganku ke Palu
Terakhir Diperbarui : 2026-10-18 Baca selengkapnya