Kak Sunny saat itu sudah duduk di bangku SMP. Usianya 14 tahun, tiga tahun lebih tua dariku. Sambil melangkah menyusuri puing-puing, ia menoleh ke arahku dengan sorot mata sayu.“Aku turut sedih, Naomi. Kalian harus kehilangan adikmu,” ucapnya pelan.Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Jemariku meremas boneka kelinci berwarna merah muda yang kugenggam erat, seolah benda itu menjadi satu-satunya pegangan yang tersisa dalam hidupku. Di sampingku, tangan kanan Kak Sunny menggenggam tanganku yang bebas dengan erat, seolah ia takut aku akan ikut lenyap dalam sekejap, ditelan kekacauan yang melanda kota.Kami terus berjalan melewati lorong yang kini tampak begitu berbeda dibandingkan hari sebelumnya. Dalam ingatanku, jalan beraspal yang dahulu membentang lurus kini berubah meliuk-liuk. Masjid di ujung jalan, tempatku biasa mampir untuk belajar mengaji, juga telah roboh rata dengan tanah.Kondisi jalan di sekitar kami sungguh mengerikan. Aspalnya hancur, retak, dan mencuat ke berb
최신 업데이트 : 2026-10-14 더 보기