Arumi mengerjap, segera tersadar dari lamunannya. “Eh, nggak ada, Pak Galih. Cuma sedikit kaget aja. Saya nggak pernah punya pengalaman menakutkan seperti itu.” Ia tersenyum tipis, mencoba terlihat tenang meskipun hatinya masih bergejolak.Galih mengangguk, ekspresinya penuh pengertian. “Sangat wajar, Mbak. Pengalaman seperti itu pasti meninggalkan trauma. Tapi Mbak sudah selamat, itu yang paling penting.” Ia menatap Arumi dengan tatapan serius. “Kalau Mbak butuh bantuan, saya bisa …”Belum sempat Galih menyelesaikan kalimatnya, ponsel di sakunya berdering nyaring. Galih mengerutkan dahi, lalu mengeluarkan ponsel dan melihat layar. Wajahnya berubah sedikit tegang.“Maaf, Mbak Arumi. Saya harus angkat telepon ini,” katanya cepat, lalu menekan tombol jawab.Arumi hanya mengangguk, memperhatikan Galih yang berbicara dengan suara pelan di sudut ruangan. Ia tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan, tetapi dari ekspresi Galih, tamp
Última actualización : 2026-09-01 Leer más